Posted in Institut Ibu Profesional

Banyak Teman Banyak Happy

Kemarin ada yang tanya sama saya.

Mbak…meski bekerja, tapi Meji tetap merasa secure, ya. Seneng & gemes melihatnya.
Rahasianya apa? Meji tipikal ekstrovert ya? Kayak ibunya?

Pertanyaan ini kemudian membawa saya mengingat dua tahun lalu saat awal-awal saya harus meninggalkan Majida untuk bekerja. Tidak ada yang mudah. Beradaptasi, saling mendukung, berbahasa yang baik dengan Majida, dengan orang rumah, dan lain sebagainya.

Dulu saya selalu pegang kunci bahwa saya harus ada di rumah saat Majida makan siang. Dan saat saya pulang kantor, Majida full tanggung jawab saya. Majida juga sering saya libatkan ketika “harus” bekerja di rumah. Kadang juga saat harus lembur, saya ajak suami dan Majida turut serta. Juga saat saya ngajak main anak-anak tetangga di Ahad pagi.

Mungkin itu yang menjadikan Majida terbiasa bertemu dengan bermacam-macam karakter orang. Dan Alhamdulillah menjadikan Majida anak yang merasa secure di tempat yang kami singgahi, meski baru pertama kali.

Pemahaman Majida tentang serunya bermain bersama teman, serunya berbagi juga berkembang jauh lebih baik dibandingkan saat saya mengamati komunikasi produktif kami. Dia senang bertemu teman-teman baru. Juga main bersama saudara-saudaranya.

Memahami Majida yang sekarang tentunya membuat saya lebih senang. Majida menikmati saat dia bermain bersama teman-temannya, sedih saat berpisah, tetapi juga memahami bahwa waktu bermain ada batas waktunya.

Proses yang dijalani anak untuk bisa lebih baik dari sebelumnya pasti tidak dengan begitu saja. Ada siklus naik turun, tangisan, juga rasa marah. Pelan-pelan, selama kita juga membersamainya dengan kasih, perubahan yang baik akan terlihat. 😉

Advertisements
Posted in Institut Ibu Profesional

Belajar Kecewa: Ban Sepeda Lepas

Sehari setelah Majida beli sepeda, keluarga besar Sahli (keluarga dari Mbah Utinya Majida) mengadakan buka puasa bersama di rumah Mbah Buyut. Rumah Mbah Buyut hanya terpisah pintu dengan rumah Mbah Uti.. jadi seolah dua rumah jadi satu. 😀 Rame dan anget.

Sore, semua saudara yang dekat sudah berdatangan. Lengkap dengan anak, istri, dan suami masing-masing. Kemriyek. Majida waktu itu sudah tidur karena ya… siklus tidur yang belum kembali normal.

Saya membantu menyiapkan makanan, ta’jil, dan minuman untuk berbuka.. Anak-anak berlarian di ruang tamu. Yang tidak saya sadari adalah 3 keponakan laki-laki menaiki sepeda Majida. Satu juga yang tidak saya sadari, ketiganya kemudian tidak bermain lagi di rumah Mbah Uti dan memilih bermain di tempat Mbah Buyut.

Sampai setelah Majida bangun dan beberapa anggota keluarga sudah pulang. Majida seperti kemarin, bangun tidur yang dicari sepedanya.. Saat menaiki sepeda, saya baru sadar kalau roda sepeda belakang (roda kecil penyangga) agak melenceng dari tempatnya.. dan sekian detik itu juga Majida jatuh.

“Aku kaget, Ibuk” katanya sambil bilang kalau deg-degan.

“Yaaah,, sepedanya rodanya rusak, Mej. Ngglindhing lepas rodanya.” kata saya sambil menunjuk roda kecil belakang yang sudah tidak pada tempatnya. Wajah Majida berubah.

“Rusak, Bu?” tanyanya.

“Rusak sedikit, Mej. Masih bisa diperbaiki. Besok kita beli roda yang lebih kokoh ya.” ucap saya. Kemudian Majida menuntun sepedanya ke kamar dan berkali-kali mengatakan.

“Sepedanya rusak, Majida sedih.”

Saya kemudian menyusulnya ke kamar. Saya pangku Majida kemudian saya tanya apa yang dirasakannya. Majida bilang tidak bisa naik sepeda. Majida juga bilang sedih.

“HP Ibu, sepeda Majida bisa rusak. Tapi bukan berarti trus tidak bisa dipakai. Kita bisa cari rodanya, dan sepeda Majida bisa dinaiki lagi. Kita keliling-keliling lapangan lagi, nanti. Besok kita beli roda sepeda dulu ya.. Yuk senyum. Ditungguin Mbak Fafa untuk main tuh.” Ucap saya menghiburnya dan meyakinkan semua akan baik-baik saja.

“Majida naik sepeda lagi, besok, Bu?” tanyanya.
“Iya, besok.” Jawab saya yang kemudian disusul dengan merosotnya Majida dari pangkuan saya berlari menyusul Fafa, saudaranya.

Malamnya, saya mengajarkan kepada Majida agar meminta izin dulu kepada siapapun kalau ingin meminjam mainan. Semoga Majida belajar banyak dari rasa kecewanya.

Posted in Institut Ibu Profesional

Sepeda Baru

Bulan ini ada rizky lebih dari hasil jualan Kurma Cokelat… alhamdulillah ada pos pengeluaran untuk Majida beli sepeda (ditambah dengan keinginan Majida menggunakan si Pus.. Celengan Kucingnya). Keinginannya untuk punya sepeda sebenarnya sudah lama. Sejak anak-anak RT sering bermain di rumah kamu saat hari Ahad. Anak-anak dengan sepedanya masing-masing yang menarik perhatian Majida. Dulu saya janjikan kalau Majida lolos bisa bilang kalau mau BAB dan pipis, kita beli sepeda. Seminggu terakhir (dan semoga selamanya) Majida lolos dari pup atau pipis di celana. Jadilah itu salah satu pertimbangan saya untuk memberinya reward.

Berbekal semangat 45, saya, Majida, dan diantar Mbah Uti hunting sepeda. Dari rumah, Majida pengen sepeda warna merah. Eh, pas sampai di toko sepeda, demi melihat sepeda-sepeda yang banyak jenisnya, berwarna-warni pula… kata “Wow” dan “Bagusnyaaa” berulang kali terdengar dari mulutnya. Hingga pilihannya jatuh ke sepeda anak perempuan warna pink.

Saya ajarkan Majida untuk berterima kasih kepada Allah karena atas kemurahan Allah, Majida jadi punya sepeda. “Bilang apa?” pancing saya.
“Terima kasih, Allah.” katanya.

20180531_143406[1]

Sesampai di rumah, Majida langsung njajal sepedanya. Bukan awal yang mudah baginya menaiki sepeda roda empat. Sempat terjatuh dan membuat wajahnya pias.. Tetapi dicobanya lagi… sampai dia bisa setengah-setengah mengayuh. Sampai larut, Majida tetap akrob dengan sepedanya. Bahkan keesokan harinya dengan kayuhan yang belum begitu lancar, Majida kekeuh untuk ke Indomar*t naik sepeda.. Emaknya yang gobyos keringetan.. 😀 🙂

Saya jadi tergelitik untuk membuat lagu sederhana untuk Meji

Aku punya sepeda, sepedaku baru
Dia berwarna merah jambu aku suka
Aku kayuh dia ke mana-mana
Aku jadi riang aku juga senang
Aku punya sepeda, sepedaku baru
Jika dia kotor akan aku cuci

Majida dengan sukacita berusaha menirukan meski tak jarang hanya senandung dengan lirik sekenanya yang terdengar dari mulutnya.

 

Posted in Institut Ibu Profesional

Takziyah dan Pemahaman tentang Mati

Berita duka itu datang dini hari, menjelang kami sahur. Mbah dari Ipar saya meninggal. Mbah Yati, sosok perempuan lembut yang di usia senjanya semakin menguatkan aura kebersahajaannya. Perempuan itu juga yang meyakinkan Ibu saya tentang kesungguhan Bapaknya Majida kepada saya waktu itu..

Kami takziyah sekeluarga, termasuk Majida. Di sana Majida bertanya banyak hal.
“Ibuk, Bulik kenapa nangis?” tanyanya.
“Bulik nangis karena sedih.” Jawab saya
“Ndak boleh sedih ya,, bahagia..” (Dia mengingat dengan baik setiap Majida sedih rindu Bapak saya bilang kita harus selalu bahagia biar Bapak bahagia. Kalau rindu, kita telpon saja.
“Bulik sedih karena Mbah Buyut meninggal” terang saya

“Meninggal? Sakit?” tanyanya lagi
“Iya, Mbah Buyut-nya Dek Hafiza meninggal, sakit cuma sebentar. Meninggal itu, pulang.. Nanti Mbah Buyut diantar ke makam. Dimakamkan, dikubur. Jadi tidak bisa sama-sama dek Hafiza lagi. Yang menciptakan Majida siapa?” tanya saya.
“Allah..” jawabnya
“Yang menciptakan Ibuk siapa?” tanya saya lagi.
“Allah..” jawabnya sambil menyimak mata saya.
“Nanti kalau Ibuk sudah tua… atau Allah pengen ketemu Ibuk, Ibuk juga meninggal.” Kata saya sambil memeluknya.

Ibuk jangan meninggal ya… nanti Majida sendirian, Majida sedih.

“Semoga Ibuk bisa temenin Majida sampai Mbak Majida mandiri ya… ” ucap saya sambil memeluknya.
“Mandiri itu apa?” tanyanya lagi
“Mandiri itu… Mbak Majida sudah bisa mandi sendiri, masak sendiri, cuci baju sendiri. Semuaa sendiri. Sudah tidak butuh Ibuk bantu-bantu Mbak Majida.”

Kalimat terakhir saya tertelan lantunan Surat Al Ikhlas dan Majida sudah keburu beranjak dari pangkuan saya menyusul Hafiza di dekat keranda Mbah Yati.

Sugeng kondur Mbah Yati.. Matur nuwun untuk ramah dan hikmah yang dibagi selama hidup njenengan.

Laha Al Fatihah

Posted in Institut Ibu Profesional

Dunia Warna

Apa bakat yang dimiliki Majida? Masih diperhatikan cyiin. Sejauh yang terlihat dan tampak, Majida memiliki ketertarikan terhadap warna. Baik warna-warna bunga, cat air, crayon, pensil warna, kertas krep yang kecemplung air, eyeshadow, blush on, lipstick. Tiga yang terakhir ngeri-ngeri sedap kalau mengingat benda-benda tersebut pasrah menjadi pewarna kulit dan juga kertas gambarnya.

Majida bisa berlama-lama ngoret-oret. Sambil berceloteh menceritakan apa yang dilukis apa yang digambar. Tak jarang juga dia bersenandung lagu-lagu yang berkaitan dengan warna.

Sejak Majida mampu dan mau merapikan crayon, spidol, dan alat-alat dolanannya, saya tidak keberatan membelikan crayon, spidol, dan alat warna lainnya jika sudah macet karena habis.

Yang mengejutkan kemarin dia bilang. Mbah Uti puasa dikasih warna hijau, Ibuk ndak puasa dikasih warna merah. Juga bilang, bahwa mau kasih makan celengan kucing biar bisa beli cat yang besar-besar.

Posted in Institut Ibu Profesional

Jualan Itu Menyenangkan!

Sesorean Majida suntuk, bosan katanya. Jadilah setelah pulang kantor dan menyiapkan buka puasa yang tak seberapa karena banyak anggota keluarga yang berbuka di luar rumah. Awalnya hanya mengajak Majida naik motor ke arah timur rumah kami. Tempat pohon-pohon masih rindang, tempat sawah-sawah masih luas.

Seperti biasa, sambil duduk di boncengan depan, Majida saya tes ulang untuk menyebutkan nama tanaman yang kami lewati. Murojaah ciptaan Allah. Hehehe.. Majida selalu suka dengan pohon jati. Bukan karena saya habis baca Jati Wesi di Aroma Karsa, tapi karena pohon jati itu tinggi. Dan dia ingin jadi tinggi, kaya Bapak Dhana 😂😁

Tak sengaja saat melewati rumah teman saya, Majida melihat sosok anak kecil sedang menyeberang jalan sambil menggendong anak kucing. Sontak Majida minta berhenti dan mengajak ke Mas yang tadi. Jadilah sekalian ajang shilaturrohim 🙂

Majida berkenalan dengan Shima dan Bima. Anak-anak teman saya. Kemudian setelah puas bermain kucing, dia tertarik hal lain. Demi melihat timbangan yang nyata di ruang tamu rumah teman saya, Majida penasaran.

Continue reading “Jualan Itu Menyenangkan!”