Posted in Hidup

Siapa yang Nakal?

Bagi yang memiliki adik mungkin pernah juga merasakan hal yang sama. Terlebih bagi sampeyan yang menjadi sulung. Hehehehe…
Cerita ini sebenernya terinspirasi dari “kenakalan” Nita beberapa waktu yang lalu.

Keluargaku

Sebagai anak pertama pasti dituntut untuk bisa memberikan contoh yang baik bagi adik-adiknya (terlebih kalau adik-adiknya buanyaaak). Nah…termasuk saya sebagai yang paling gede di rumah. Beberapa peristiwa terjadi saat saya masih kecil, kalau adik saya menangis, kadang yang ditanya adiknya “Siapa yang nakal?” dan dengan polos adik saya menjawab “Mbak Nita”. Atau berbeda lagi dengan adik bungsu saya yang ketika dia sudah manyun dan ditanya “Siapa yang nakal?” jawabannya dengan memonyongkan bibir ke arah saya. Nah loh…

Kadang saya berpikir, dulu waktu masih usia sekolah, saya sering kesal ketika ada pertanyaan “siapa-yang-nakal” dan jawabannya “mbak-nita”. Tapi saat ini pertanyaan itu berubah menjadi siapa-yang-salah? Dan bukan kesal lagi yang ada dalam benak saya… Lebih pada pertanyaan besar “seberapa besar salah saya?”. Atau mungkin lebih tepatnya saya akan menyelami “saya kurang memahami adik saya”.

Beberapa waktu yang lalu saya juga menjalani “kenakalan”. Saya niatnya mencari sebuah pengalaman baru yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya dengan autis ke pulau seberang. Tapi…keputusan saya itu salah. Karena mungkin menentang beberapa norma… Saya sekarang berpikir, mungkin tak ada efeknya jika saya pergi ke tempat teman saya atau bersama teman saya. Tapi saya pergi ke rumah yang tak seharusnya saya kunjungi saat ini. Yaaa, apapun alasannya saya tahu itu salah 🙂

Bangunan yang menyambut saya
Bangunan ini yang menyambutku dari Bakauheni

Adik-adik saya pun berbeda-beda reaksinya. Adik pertama saya “Karena salah kamu, semua orang kena di rumah”, adik kedua saya bilang “That’s your choice, may you can take the wisdom of your life episode”- how wise she is-red. Adik yang ketiga -cuek tak ada komentar” dan bungsu “oleh-oleh sepatu C***s-nya kapan Mba?

ooh aida...


Macam-macam komentar itulah yang membuat saya kemudian berpikir panjang.

Tak seharusnya saya membuat panik orang rumah, multiplier effect yang saya terima juga sangat kompleks. hehehe…

Tapi melalui tulisan ini saya ingin menegaskan bahwa

  1. Punya atau tidak punya adik, setiap tindakan harus dipikirkan, karena efeknya akan sangat kompleks…bukan masalah nakal atau tidak, juga masalah salah dan benar 🙂
  2. Kejadian yang lalu murni kesalahan saya, tidak ada maksud untuk menafikan ibu dan adik-adik saya.
  3. Buat adik-adikku (yang mau menjadi bagian dari peristiwa ini), tolong aku ya nanti….hehehehe.
  4. Aku sayaaaang sama Ibu
Aku sayang Ibu
Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

3 thoughts on “Siapa yang Nakal?

  1. sejauh kau berfikir, sedalam kau bijak… kau tak akan berani sebelum melewati ketakutan. untuk mendapatkan ‘apa’ harus melewati ‘apa’ 😛 🙂

  2. wuuuaaa sedih juga bacanya.. but.. yg penting nita dah menyadari dimana salahnya. dan semoga akan ada hikmah untuk kedepannya.. OK nittt … 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s