Posted in Hidup, Lesson Learnt, Renungan

Catatan Kebangkitan Nasional (1)

Tulisan ini saya buat setahun kemarin. Atau dua tahun lalu ya? Saya lupa.. saat itu saya masih getol2nya di KM IPB…hihihii…

sok disimak.. nanti saya akan bikin versi sekarang dimana di setiap perjalanan saya dari kost ke kantor atau sebaliknya, buanyaaak sekali yang menurut saya (orang yang kadang suka mikir sendiri…) lebih “berjuang” dan butuh untuk ‘dibangkitkan’… hahahahha…

Perjalanan Bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaannya tidak bisa terlepas dari sebuah gerakan yang dibangun untuk membakar semangat anak bangsa yang menyadari bahwa negeri ini beserta masa depannya adalah tanggung jawabnya. Sejarah mencatat bahwa tahun 1908 tepatnya pada tanggal 20 Mei, sebuah monument perjuangan bangsa dipancangkan. Boedi Utomo sebagai pencetus Kebangkitan Nasional yang melandasi perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan berhasil membakar semangat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaannya.

penggagas boedi oetomo sumber: http://andy.web.id

Hari Kebangkitan Nasional, sebuah agenda besar yang saat ini tampaknya hanya diperingati secara ceremonial tanpa memberikan suatu makna mendalam dalam perjuangan mengisi kemerdekaan yang telah dicapai dengan gemilang pada masa silam. Pengorbanan para pendahulu sangat besar dalam merumuskan cita-cita mulia bangsa

  1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,
  2. Memajukan kesejahteraan umum,
  3. Mencerdaskan kehidupan bangsa,
  4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Kini, cita-cita itu rasanya bisa didengar saat upacara-upacara bendera sebagai sebuah formalitas, tanpa memberikan arti. Terlihat dengan jelas, berapa banyak anak usia sekolah dasar yang lebih mencintai menghabiskan waktunya dengan les-les dan hanya mementingkan sebuah perolehan nilai, tanpa memahami esensinya. Menonton kartun setiap hari bahkan mulai dicekoki dengan film-film (yang katanya untuk anak-anak) tapi sebenarnya tidak pantas untuk disebut film anak-anak. Lihat juga dengan jelas remaja Indenesia yang lebih suka menghambur-hamburkan uang di mall, bahkan terjerumus dalam kehidupan yang tidak mendatangkan manfaat sama sekali. Generasi muda yang tidak menyadari bahwa Indonesia miliknya, tanggung jawabnya, dan masa depan Indonesia ada di tangannya.

Seiring sejalan dengan semakin tidak dipahaminya semangat kebangkitan nasional sebagai semangat untuk mempertahankan kemerdekaan, mengisinya dengan pembangunan, dan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, pemerintahan, politik dan (yang katanya) demokrasi menambah daftar ketidakberdayaan bangsa Indonesia melawan PENJAJAH YANG BERNAMA EGOISME. Tugas yang semakin berat dalam membangun Indonesia yang sejak dulu diarahkan menjadi negara yang tinggal landas menuju degara maju tetapi masih saja “tinggal di landasan” terlihat dari kemiskinan, tidak ratanya pendidikan, tingkat pengangguran, dan juga infant democracy process (proses demokrasi yang prematur) yang terjadi di Indonesia.

Terlintas sebuah pemikiran ketika menyimak WS Rendra yang mengungkapkan kejijikannya kepada proses demokrasi di Indonesia karena sama sekali tidak mengusung idealisme dari cita-cita bangsa. Terbukti selama kampanye Pemilu legislatif yang lalu poster-poster bahkan baliho raksasa yang dipajang hanya berisi janji-janji, tidak didukung dengan ketinggian intelektualitas dan kepekaan sosial yang seharusnya dimiliki oleh calon legislatif. Rendra menambahkan bahwa gerakan perubahan yang harus dibangun adalah memberikan pengertian bahwa politik bukan hanya upaya untuk melakukan dominasi. Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.

Rendra. Sumber : http://wesumarspeaks.blogspot.com

Terinspirasi dari seorang penyair (seniman—Red) yang memiliki kepedulian yang lebih untuk perubahan Indonesia menjadi lebih baik, mengapa generasi muda tidak bisa meniru semangat Boedi Utomo, semangat sumpah pemuda, dan semangat dalam meraih kemerdekaan Indonesia untuk mengisi kemerdekaan Indonesia demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik.
Moment kebangkitan nasional yang lebih dari satu abad membawa sebuah pertanyaan besar yang mungkin hanya akan terjawab oleh masing-masing kita, bagaimana Indonesia memperbaiki kehidupannya, bagaimana sebuah moment kebangkitan nasional tak hanya diperingati sebagai suatu formalitas, bagaimana permasalahan bangsa dapat diselesaikan dengan cara cerdas, dan bagaimana peran saya untuk Indonesia.

Karena Indonesia adalah punya saya, Indonesia adalah tanggung jawab saya, masa depan Indonesia ada di tangan saya, maka untuk melanjutkan perjuangan yang tidak akan berakhir… Cuma kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang alam berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dan leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Juga lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja dan hati yang akan bekerja lebih keras, serta mulut yang akan selalu berdoa (Donny Dirgantoro-5cm).

Indonesia. jakarta45.wordpress.com

Semua itu untuk Indonesia saya (kita–red).

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s