Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta, Renungan

Doanya dan Nafasku…

“Menjadi Tua itu pasti, menjadi Dewasa itu pilihan”

Rasanya sudah beratus kali mendengar kalimat itu. Menjadi dewasa (dalam makna yang sesungguhnya) saya pikir pasti akan lebih banyak dipilih karena proses mencapai predikat itu pasti sangat luar biasa dan berlaku tak sama pada setiap individu.

Beberapa hari ini saya terlarut dalam pemikiran yang cukup menyita energi saya. Hehehehe… ada dua hal yang menurut saya rada pribadi yang membuat saya “sedikit” berpikir.

  • Tentang Jodoh saya…hehehehe
  • Tentang Urip saya yang jauh dari kandang 🙂

Berawal dari syndrom Ibu saya yang tidak bisa disalahkan juga. Syndrom mantu karena teman2 seangkatan Ibu (seangkatan menikah) sebagian besar udah pada mantu… teman-teman seangkatan (baik di SMA atau di kampus) saya juga sudah banyak yang menikah,,,yaaach saya menyadarinya lha  wong saya juga pernah ngalamin syndrom tersebut. Kalau Ibu saya syndrom pengen mantu saya pernah kena syndrom pengen nikah. Duuuh kalau ditanya rasanya seperti apa “saya yang sudah nyaris menjalani pernikahan dan tidak jadi (karena alasan yang tidak jelas, karena alasan yang katanya syar’i) harus ikut berbahagia melihat teman2 saya satu per satu menikah” (lho,,,curhat jadinya). Tapi saya kemudian menyadari ,,, semua itu karena sudah ada suratan dan jalannya masing-masing. Mungkin benar kata orang “ora jodhone“. Hahahahaha bukan jodohnya atau masalah rizqy kita yang direbut orang lain? Kalau akhirnya bukan milik kita toh berarti juga bukan rizqy kita kan? Kebolak dan membingungkan memang. Tapi masa2 syndrom saya sudah lewat.

Bermula saat Bapak saya pergi untuk selamanya, di situ kesadaran saya terketuk terdobrak.. Saya harus bisa membantu Ibu saya nyekolahin adik2 saya… Masalah saya pribadi? Bisa diatur sambil jalan..heheheheehehe. Sekarang saya juga sedang menikmati rasanya banting jari (karena kerjaan saya hampir tiap hari di depan kompie) dan banting kepala (berpikir untuk mengembangkan apa yang telah saya kembangkan..hahahahaha). Tapi saya ga mau munafik kadang perasaan itu halus menyusup….saat berpasrah diri menyerahkan hidup ini kepada SANG MAHA CINTA 🙂

Bahwa hidup itu memang harus memilih. http://www.anipsiuletbulu.wordpress.com
Siapakah dan di manakah jodoh saya? Hehehehehe

Syndrom Ibu saya itu berlanjut dengan doa dan pengharapan saya segera bertemu dengan jodoh saya hampir di setiap sms dan teleponnya. jujur, saya jadi sangat terharu dengan doa dan pengharapan Ibu saya tersebut. Bukan masalah saya tidak mau menikah, tetapi “calon” yang tak kunjung datang :). Terlebih saat sepupu saya curcol tentang keterbengongannya saat mendengar curhatan Ibu saya kepadanya, dimana Ibu saya berkata:

Dongakna Mbakyumu ya lah ndang ketemu jodho sing diridlai ALLAH (Doakan Mbakmu ya, biar segera bertemu dengan jodoh yang diridhai ALLAH)

Saya hanya bisa senantiasa mengamini apa yang dikatakan Ibu saya, kalau menurut teman saya, saya diajari untuk menjawab “Saya sudah siap menikah Bu, masalahnya belum ketemu saja” untuk nyicil ayem. Hehehehehe…. Ibu saya selalu punya doa khusus untuk kelima buah hatinya, saya dan dan adik-adik saya. Bahkan tak jarang saat saya pulang kampung…Ibu saya bangun tengah malam, berdoa panjaaaang bahkan sedikit terisak,,,kalau ingat itu… sering muncul pertanyaan “Kapan saya bisa memenuhi keinginan dan harapan ibu saya, berikan hamba kesempatan Yaa Rabbul Izzah…” ya…saya hanya bisa berdoa,, untuknya..Ibu saya…

Si penyita pikiran yang kedua adalah status perantauan yang saat ini melekat pada diri saya. Beberapa kali saya harus berdiskusi dengan hati saya dan berdamai lagi dengan hati saya. Ibu saya bahkan adik2 saya sebenarnya kalau dipaksa jujur, pasti menginginkan saya dekat dengannya.. Saya tidak menampik dan mencari alasan karena Ibu saya tidak mengerti saya dan posisi saya. Sejak kepergian lelaki tercintanya, Ibu selalu membutuhkan tempat untuk berbagi, pun begitu dengan adik-adik saya. Kadang saat Ibu saya ingin mengeluarkan uneg2nya,,,saya sedang ada kegiatan di luar,, yang mungkin memaksanya untuk menahan rasa rindu, rindu bercerita, rindu bertemu.

Perantauan. http://www.bocahbancar.wordpress.com

Semalam, setelah mencoba berkomunikasi dengan lelaki tercinta itu, serta mendengar shalawatan dari Masjid sebelah,, saya semakin termenung dan berpikir, sampai akhirnya tetap terjaga sampai pagi…. Bukan ingin saya untuk jauh dari Ibu dan adik2,,percayalah, saya akan berusaha semampu saya untuk kembali ke kandang. Mungkin kandang yang saya maksud belum siap untuk menerima saya. Atau mungkin saya belum pantas untuk kembali ke kandang karena saya masih harus banyak belajar untuk dapat menjadikan kandang saya lebih indah, lebih bagus dari sebelumnya. Yaach kalau kata seorang teman saya

Dilakoni wae ndhisik sing ana, yen wis wayahe mbalik kandhang rak ya diparingi dalan karo Gusti Kang Murbeng Dumadi – Someone in somewhere 🙂

Ya,,,saya bukan siapa-siapa, dan memang dalam setiap nafas yang saya hela ada berjuta doa dari wanita tegar yang menjaga nafas saya dalam tubuhnya, 25 tahun 9 bulan yang lalu. Dan doa-doa itu akan mencoba menjadi senjata agar ALLAH mau meminjamkan tanganNYA sesuai dengan usaha atas tangan saya, agar saya bisa jadi lebih baik,,, bisa jadi lebih cantik, dan lebih tegar dari biasanya.

Untuk ibu saya : Terima kasih atas doa dan pengharapan yang menjadi bagian dari nafas saya…

Untuk seseorang di sana: semoga kita dapat bertemu di waktu, tempat, yang sempurna seperti rencanaNYA…

Untuk saya : semoga tetap berusaha untuk memantaskan diri mendapat pinjaman tanganNYA.

Untuk rasa cinta…rasanya saya mau menyanyikan lagunya Letto untukmu….

Walau sehari ku tak berhenti
Untuk mencari bunga hati

Oh rasa cinta bersabarlah menantinya
Oh rasa cinta bersabarlah menantinya

Begitu lama aku mencoba
Dan sampai kini tak berdaya

Oh rasa cinta bersabarlah menantinya
Oh rasa cinta bersabarlah menantinya

Walau tak ku punya
Tapi ku percaya cinta itu indah
Walau tak terlihat
Tapi ku percaya cinta itu indah

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

4 thoughts on “Doanya dan Nafasku…

  1. Sabar mbak, meski syndrom ngebet nikah dah lewat tapi kok tatarannya sekarang lebih ke arah melegakan hati orang-orang yang dicintai, asal ndak terburu-buru aja karna kemeruh saya bilang segala sesuatu yang \terburu-buru juga ndak baek…

    Btw ni curcol tingkat Dewa, pake nyanyi Letto pula 😯

    1. Hahahaha,, lha iya to ya…sabar kuwi mesti, ning yo nek ditakoni terus rasane kemranyasan 🙂 tenang Tong, selama aku isih nduwe kanca dolan aku isih tenang, mengko yen siji2 wis padha nduwe buntut aku sing susah..dhewekan 😀

      Wah lha iyo, kan aku wis ngomong….pengen tak nyanyekke po?? hehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s