Posted in Hidup, Lesson Learnt, Main-main, Renungan

Semoga Ibu Itu Masuk Surga Bersama Sumpah Serapahnya

Judul di atas sama sekali tidak ada tendensi bahwa saya mendoakan Ibu setengah sinting (yang kutemui di akhir pekan ini) itu masuk surga dengan membiarkan Malaikat Penjaga Pintu surga disumpahserapahi oleh Ibu itu. Tetapi alangkah baiknya para calon wirausahawan membaca sebuah catatan kecil tentang kebangkitan perjalanan saya menemani seorang calon pengantin nyari undangan di Pasar Tebet ini.

Cerita ini berawal ketika rekan saya di kostan tercinta meminta saya untuk menemaninya memilih desain undangan yang elegan dan tidak begitu nyesek di kantong. Berdasarkan pengalamannya dan  informasi dari atasan saya beberapa waktu lalu, pilihan untuk memilih dan memilah undangan ini jatuh ke Pasar Tebet (karena di sana tempatnya, kalau nyari di Tanah Abang berarti nyari baju…hehehehe). Keputusan untuk berangkat ke sana sangat mendadak, karena sejak pagi kami ngobrol ke sana kemari ke situ ke sini sambil memanjakan diri a la perempuan. (Hai para perempuan, you know lah apa yang kumaksud…wwkwkwkwk). Very last minutes decision.

Singkat cerita berangkatlah saya dan si Mbak ke Pasar Tebet. Dan memang benar, di sana gudangnya undangan.. Jadi ada beberapa pusat di Jakarta…

  • Baju = Tanah Abang,

  • Souvenir Nikah = Jatinegara (Mester)/Asemka,

  • Undangan = Tebet,

  • Kue shubuh dan baju bekas=Senen,

  

  • Burung=ya di pasar burung laaaaah…. 🙂

Balik lagi ke Pasar Tebet Barat. Pertama kali masuk ke vendor gang pertama belok kanan di depan Duta Graphia…. whooops nyes,,, karena memang pake AC, nanya2 bentar (seputar bahan dan harga yang sesuai selera si empunya hajat), dan saya pun meminta kartu nama dari yang punya vendor J. Selesai di satu vendor berlanjutlah ke vendor2 yang lain. Setidaknya saya dan si Mbak mengunjungi 6 tempat pemesanan udangan. Dan berdasarkan pengalaman saya waktu berbelanja di Tanah Abang saya mengumpulkan kartu nama untuk mencatat jenis model undangan dan kisaran harganya dan memudahkan saya untuk langsung menghubunginya kembali jika perlu.

Nah, ini neh…sesampainya di vendor ke 4…tiba2 Ibu dari vendor pertama datang dan bilang

“Harganya paling juga segitu-segitu,,,” (dengan muka nyinyir – dia tahu kalau saya sedang menerima kartu nama dari vendor ke-4) “Di sini sebenernya ga boleh kasih kartu nama” (What the hell aturan dari mana itu??? Saya pun membalas dengan senyum yang sangaaat ringan semi mengejek – tidak untuk dipraktekkan saudara2 jika tidak terlatih emosinya bisa pengen nonjok muka si Ibu itu)

Ow gitu ya Bu? Tapi kalau pemiliknya bolehin kita minta dan ngasih juga ga apa-apa kan?” (saya masih nunjukin gigi saya)

“Harusnya ga ada kasih-kasih kartu nama, untuk apa?” (arahnya siy seperti ini – ngapain siy dibanding2in?)

“Hak kami dong Bu sebagai konsumen….” (pengen lanjutin lagi tapi udah keburu ditarik sama si Mbak yang baik hati…wkwkwkwkwk….)

Dengan mengantongi kartu nama dari vendor ke 4, kami beranjak pergi dan menuju ke tukang cetak ke5. Kali ini Ibu2 yang tampaknya baik… bertanyalah kami beberapa hal standar, model dan harga…but…….

Aku baru sadar sepertinya si Ibu di vendor ke 5 ini menerima orderan undangan yang sama dengan Ibu judes tadi atau mungkin diminta Ibu Judes untuk membantunya memenuhi pesanan yang dia ga sanggup tanganin sendiri… (mudeng ga? Orderan bareng gitu….) Ohhhh Tuhaaaaaan…..AGAIN!!!! Straight to the point yang saya ga ngerti maksudnya, si Ibu judes itu bilang:

“Ga ada kartu nama kalau di sini, sama juga di sini kalau masalah harga” (pengen nunjukin kalau dia bisa koordinir beberapa percetakan di situ – angkuh kali kau Jeng).

Ow, gitu ya Ibu… baik Ibu…” kata Mba kost saya. Trus setelah dia pergi, kami nanya ke Ibu penjual ke-5

“Si Ibu itu kenapa si Bu?”

“Emang kenapa Mba?” berceritalah kami… But…again…dia datang… (sengaja menguntuit tampaknya) dan si Ibu baik hati penjual ke-5 langsung mengalihkan pembicaraan. Ga pengen adu mulut lebih panjang (khawatir juga aku nanggepin omelan Ibu Jahat Judes Jutek bau Ket*k itu), si Mbak langsung ngajak aku cabut sambil berucap

“Terima kasih Ibu, Assalamu’alaikum…” kata mba kost saya, betapa mulianya si Mbak ..hehehe

Acara perburuan masih berlanjut,, dan di percetakaan ke-6 saya ga berani minta kartu nama. Ini nama percetakannnya Batang Printing. Tampaknya si Mbak lebih sreg dengan harga, pelayanan, dan perjanjian pembayaran dari si Ibu percetakan ke-6….. Ffffhhh… rasanya bedaaa banget. Ibu ini tampaknya paham banget bagaimana “menjual” dagangannya dengan santun, bagaimana menghargai calon konsumen, dan bagaimana bernegosiasi. Intinya semua bisa dikomunikasikan dengan baik. Dan yang ajiiib.. si Ibu denga sukarela menawarkan kartu namanya (ini baru bener,,,lagian untuk apa coba mereka cetak kartu nama kalau bukan untuk target group salah satunya calon konsumen???).

Dengan tersenyum puas diselingi joke2 ringan kami meninggalkan percetakan ke-6 dengan satu kesan,, Walaupun mungkin pilihan vendor nyetak undangan jatuh ke sepupu calon mempelai pria, tapi kami cukup senang dilayani oleh si Ibu terakhir. Hahahahaha…

Sepanjang perjalanan meninggalkan tempat tersebut ada beberapa spekulasi yang muncul dari saya dan si Mbak… mungkin Ibu itu sinting, sedang mengalami rugi bandar, tidak diberi nafkah batin oleh suaminya sehingga uring-uringan, takut kalah saingan, dan beberapa spekulasi konyol serta njijiki lainnya 😀 . Namun yang paling berharga bagi saya adalah pelajaran bahwa:

  1. Si Ibu Jahat Judes Jutek  Bau Ket*k itu mungkin sampai kapanpun ga akan lolos saringan menjadi marketing staff, marketing manajer, bahkan menjadi SPG jika masih berkelakukan seperti itu.
  2. Ada baiknya si Ibu yang saya sebut pada point 1, membaca beberapa buku literatur apalah itu yang isinya tentang menghadapi konsumen, how to negotiate, atau mungkin marketing management, atau mungkin Piye Carane Dadi SPG Sing Apik (saya rasa buku terakhir tidak di jual di Gramed*a),,,dan saya pikir mungkin si Ibu tak akan sempat membacanya karena terlalu sibuk mikirin orderan yang didapatkan orang lain sedangkan untuknya tidak.
    Ramahnyaaaa

  3. Calon wirausahawan (jangankan wirausahawan, penjaga stand pameran juga berlaku) harus belajar bagaimana “melayani” konsumen atau calon konsumen, bahkan pengunjung dengan baik, dan buatlah kesan mereka nyaman dengan Anda.
  4. Untuk Mba2, Mas, dan Ibu2 vendor2 selanjutnya, Anda sudah cukup baik dalam melayani kami, tapi best performance diraih oleh Ibu Yati dari Batang Printing… Selamat menurut saya pribadi Anda telah memikat saya dengan cara Anda melayani kami 😀
  5. Untuk saya, seharusnya saya minta maaf walaupun kenyataanya si Ibu pertama itu jahat, jutek dan judes tapi saya bohong kalau dia bau ket*k, saya aja ga mau melihat mukanya terlalu lama, apalagi dekat2 dengannya…. hahahaha… jadi saya ga tau bau ket*knyaJ hahahahaha. Mumpung mau puasa Bu..saya mohon maaf dengan meminjam kalimat dari si Mba.. Semoga Ibu masuk surga dengan semua sumpah serapah Ibu

Btw..saya mimpi apa ya minggu lalu sampai ketemu sama si Ibu Jahat, Judes Jutek bau Ket*k itu? Hehehehe

Note: Bacalah dengan dosis yang sesuai (Diambil hikmah dan pelajarannya aja ya. Jangan ikuti keusilan saya). Jika mengalami hal serupa jangan ragu hubungi saya.^_^.

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

12 thoughts on “Semoga Ibu Itu Masuk Surga Bersama Sumpah Serapahnya

  1. hahaha tulisan yang kocak dan banyak pelajaran yang bisa di ambil.. iya nit jadi marketing, jualan atau apapun lah yang berhubungan ma jualan itu susah loh untuk bisa membuat pelanggan nyaman sama kita apa lagi yang belum2 udah nyemprot2 dan ngomong dengan nada tinggi…
    ga semua orang bisa, hehe q belajar dari apa yang q handle selama ini(yang akan selese awal agustus krn mau di tutup pemiliknya hihi)
    yang penting, selain membuat nyaman pelanggan sbg penjual harus menguasai kelebihan dan kekurangan produknya

      1. wkwkkw seep.. mengko nek golek undangan langsung meluncur neng bu Yati ae hihii

        insya Allah sesuk nit.. melu bejeu hehe nyoba , soale rung pernah

  2. Saya si mbak kost yang baik hati, dan ga bintilan lagi, tapi GOSONG! 🙂

    Kejadiannya tak selucu ini pas ngalamin! ampe abis 1 teh botol, sama 1 keranjang kue klepon sanking emosinya! Aku buang saja tu kartu nama, malangnya nasib suami si ibu2 itu!

  3. mbak .dari kartu nama batang_printing ada no rek nya? kalau ada boleh minta? saya mau order (oederan luar kota jakarta) sekedar u/ cek n ricek saja siapa tahu aku dapat rek palsu dari orang2 tidak bertanggung jawab yang mencari kesempatan. tq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s