Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta, Renungan

Saya, Suara dan Sunyi

Kata Ibu saya (yang pada akhirnya saya akui juga) saya terlahir dengan karakter yang terbuka dan penyuka suara. Dari kecil, tangisan saya yang paling kencang, suka teriak-teriak saat mau ditinggal kerja. Dan tak jarang membuat onar di rumah. Pada dasarnya saya suka sesuatu yang lucu.

Karena lucu inilah, dulu saya pernah membekap adik saya dengan bantal (kalau tidak salah ingat, usia saya masih 2 tahunan dan adik saya beberapa bulan), saya menganggap lucu saat adik saya menggerak2an tangan –yang  kemudian saya tahu itu gelagepan, atau tepatnya belum mengerti kalau itu tidak lucu.

lihat muka bengis saya,, dan itu adik saya 😀

Saya juga sangat menyukai berbagai suara, saya suka musik dari kecil. Mungkin karena Bapak saya darah seninya kental, atau saya yang suka berisik saya tidak tahu. Karena kesukaan saya inilah dulu piring, gelas, mangkuk ibu saya (juga nenek saya) hampir habis. Kata ibu saya, saya selalu tengok kanan dan kiri saat melihat ada benda-benda tersebut di atas meja. Setelah yakin tak ada orang (padahal Ibu saya memperhatikan-karena penasaran penyebab saya suka membanting  mendorong benda-benda tersebut), saya mendorong pelan-pelan sampai terdengar suara indah dari pecahan benda tersebut dan saya mengakhiri aksi saya dengan bertepuk tangan sambil berteriak senang. Mulai saat itulah, Ibu menjauhkan benda2 bagus tersebut dr saya.

Saya waktu kecil genit, tapi juga biang onar
Trouble Maker

Dulu saya sangat suka berteriak, rasanya bisa lega, apalagi kalau sampai tenggorokan serak, hehehe. Bahkan, beberapa foto masa kecil saya juga menyisakan kenangan betapa masa kecil saya sangat nuakall.. Tapi saya yakin, kenakalan inilah yang dikenang baik oleh orang-orang dekat saya (hahahaha).

Ketika saya sedikit bertambah besar, saya suka mendengar lagu-lagu Barat yang dibawa oleh Om dan kakak-kakak sepupu saya yg tentunya lebih sepuh. Saya mulai ngawur melafalkan lagu (hanya berdasarkan pendengaran saya). Sampai suatu saat Om saya yg menyadari bakat saya (hahahaha) membawa kaset Maribeth yg waktu itu ngetop dengan Denpasar Moon,,ada teksnya.

Om sayalah yang pertama kali mengajarkan bagaimana melafalkan kata-kata Inggris (saya merasa sangat hebat waktu itu). Itulah lagu pertama yang bisa agak sempurna saya nyanyikan, bukan seperti pengamen ibukota yg saat ini seringkali ngawur melafalkan syair bahasa inggris. Hehehe. Mulai saat itu saya suka musik, lagu lebih tepatnya. Mulai belajar mainin alat musik,,serampangan.. Hahahaha.

Darah saya berasal darinya. Love you Dad

Dan hal ini terimplementasi ketika saya memasuki sekolah menengah pertama, karena saya lebih suka belajar dengan ditemani sedikit kegaduhan entah itu dari radio atau teman yang sedang bercanda dan berbicara. Hal ini berlanjut sampai saya kuliah, dan berimbas saya kena marah oleh Mbak Kostan saya, karena saya dipaksa untuk belajar saat ujian seperti teman-teman kost yang lain, tapi saya memilih tidur saat teman-teman sedang belajar dengan tenang,,hahaha. Saya lebih memilih belajar saat mereka terlelap, jadi saya bisa belajar di depan TV, menyalakan TV dan ikut bernyanyi jika ada lagu.

Namun, saya yang penyuka keramaian, kegaduhan, ternyata juga butuh sunyi dan hening untuk sementara waktu. Berawal dari sebuah peristiwa yang tak mungkin saya bagi di sini (karena menyangkut reputasi seseorang – hahahaha), saya menjalani pengembaraan perjalanan hening saya. Pada awalnya saya mencari tahu jawab dan berharap menemukan ketenangan saat saya bercerita ataupun berbagi dengan sesama. Akan tetapi rasa nyaman dan tenang itu belum juga saya dapat. Akhirnya, saya untuk sejenak “mengasingkan” diri dari semua hahahehehihi dunia.

Dalam perjalanan hening saya tersebut, ahirnya saya menemukan ketenangan berdasarkan perenungan yang kata orang alim muhasabah (cieh,, muhasabah cinta kaliii). Saya jadi tahu hal-hal yang seharusnya saya syukuri, siapa yang harus saya cari, dan apa yang harus saya lakukan.

Pagi Sunyi

Tapi tetap saja, saya merasa walaupun saya berniat untuk bersunyi sementara waktu tetap saja saya menikmati dialog orang-orang di sekitar saya, suara bising di sekitar saya. Dari situ saya kemudian mengambil kesimpulan saya bahwa walaupun saya berada di tempat ramai akan tetapi kalau saya niat untuk menyepi ternyata bisa juga. Coba siapa di antara sampeyan yang sepertinya ngelamun tapi sedang menimbang sesuatu saat bersama banyak orang? Nah seperti itulah kira-kira.

Saya tergerak untuk menuliskan ini karena beberapa waktu yang lalu saya merasa ada yang tak beres baik dalam diri saya. Berawal ketika teman baik saya mengatakan bahwa saya yang tampak kuat di luar ternyata juga butuh sandaran. Hmm saya akui benar adanya. Saya butuh sandaran,, tapi saya kemudian sadar bahwa kalau yang saya jadikan sandaran adalah manusia sering membuat saya gemes… Bukan tambah tenang, malah makan ati. Hahahha,,

Jadi kalau bahasa yang lagi ngetrend sekarang adalah galau… Saya berdamai dengannya dengan menyendiri sementara waktu baik di tempat sunyi atau ramai..sama saja.. saya hanya ingin menyendiri memahami hakikat masalah yang saya hadapi, mencoba bertanya apa maksud dari yang saya hadapi, memutar lagu, murattal atau musik tenang yang mengingatkan akan kebaikan. Dan,, MAGIIIIC…. Saya terbebas dari Galau…

Dan kata seorang teman “Lelaki Pembaca Tanda” yang saya ceritakan mengenai mimpi saya mengatakan “Tanda jernih sudah ada,,, untukmu tentang apapun…”

I’d like say Tashkor ALLAH, Lakal Hamd… telah menjadikan saya, suara, dan sunyi untuk lebih memahami maksudMU 🙂

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

One thought on “Saya, Suara dan Sunyi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s