Posted in Hidup, Renungan

Ujung Rasa…(Terima kasih)

Kadang kita terlalu menuntut untuk diberi yang terbaik, yaa memang dasarnya seperti itulah manusia tak pernah puas, dan merasa apa yang dilakukannya adalah sebaik-baiknya usaha. Bahkan di saat kita mendapatkan kebaikan, terkadang secara otomatis hati kita lupa untuk memerintahkan otak agar memerintahkan setidaknya lisan berucap syukur. Dengan pongah kadang kita mengucap “aku yang melakukan ini semua” seolah melupakan sisi Tuhan.

Begitupula dengan hidup yang dalam beberapa waktu ini kujalani,,, ada senang dan tak jarang yang sedih. Dan dari situ aku percaya DIA sayaaang banget,, DIA baik dan pasti memberi yang terbaiiik untukku. Bahkan ketika aku harus mengakui logikaku tak cukup mampu memaknai kisah yang terbentang di hadapanku.

Mengingat betapa aku merasa butuh dimengerti sebagai seorang manusia oleh manusia yang lainnya, mengingat aku yang terlalu lelah untuk memaksakan “yang terbaik” itu tadi. Mengingat betapa bosannya aku pada akhirnya dengan ulahku sendiri. Aku teringat ucap seorang yang baru saja ditinggal ayahnya kembali kepadaNYA.

Namanya Inayah Wahid (Puteri Gus Dur) yang waktu itu diwawancarai di salah satu TV Swasta… dan ceritanya langsung nancep banget ke ingatan… Jadi ceritanya gini..Rossiana Silalahi menanyai Inay tentang rasa kehilangan Ayahandanya.
berceritalah Inay (tentu berdasarkan ingatanku yang terbatas…tapi tak merubah esensi tentunya)

“Saya pernah ditanya sama temen, kalau saya dipinjemi HP dan suatu saat HP itu diambil kembali, apa yang akan saya ucapkan. Lalu saya jawab saya akan ngucapin terima kasih. Teman saya kemudian berkata bahwa itu hal yang paling jarang diucapkan manusia kepada Tuhannya. jarang banget kita ngucapin terima kasih Tuhan atas pinjamannya..(apapun itu). Akhirnya saya belajar dari teman saya, saat Bapak meninggal, akhirnya saya mencoba untuk berkata ‘terima kasih Tuhan telah meminjamkan ayah terbaik dalam hidupku’ “.

Dari situ…aku berusaha untuk merefleksikannya dengan hidup yang kadang rumit…(teman yang tak bisa dipahami, keinginan yang berbenturan dengan fakta, dan berbagai macam hal lainnya)…

“TERIMA KASIH ALLAH, ATAS KESEMPATAN TERBAIK YANG KAU BERI UNTUKKU LEBIH MEMAHAMI MAKNA DARI HIDUP YANG KAU BERI BAHKAN DI UJUNG RASA INI”

Lelah, lega, rindu, passion, dan segalanya….

Tulisan ini pernah ditulis tahun 2010 dan kembali ditulis dengan sedikit perubahan,,karena memang kisahnya sedikit berubah -halah-.. Hehehe

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

2 thoughts on “Ujung Rasa…(Terima kasih)

  1. iya memang benar . Dia selalu memberikan yang terbaik bagi hambanya..
    masalahnya.. kita tidak pernah tahu apa yg terbaik untuk kita menurut DIA
    sebagai manusia, kita hanya bisa menggunakan logika berfikir kita dan menentukan apa yang terbaik untuk kita.. lalu mengusahakan nya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s