Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt, Main-main

PORSENI EsDe :)

Akhir pekan lalu merupakan hari yang sangat melelahkan bagi saya. Rasanya lelahnya to the max 🙂

Hari ini saya kembali ke kantor, berkutat dengan beberapa kerjaan rutin yang mengembalikan passion saya. Sampai akhirnya jelang makan siang tadi, saya buka-buka album foto adik-adik saya dan juga baca-baca lagi catatan-catatan dan celoteh yang sudah saya tulis dari jaman ababil sampe sekarang. 😀

Saat lagi nguprek-nguprek tadi saya nemu foto2 ini 🙂

Lagi nonton PORSENI SD 🙂

Foto ini diambil saat saya dan adik-adik saya (kecuali si Bungsu karena dia sekolah), nonton Pekan Olah Raga dan Seni (PORSENI) SD. Ini lagi jadi supporter tim sepak bola almamater saya dan adik2 saya ini: SDN Mindahan I.  Lapangan ini dekat rumah saya, di lapangan ini pula, belasan tahun yang lalu saya pernah jadi supporter sepak bola.. Saya jadi senyam senyum sendiri ingat tingkah saya sesaat sebelum foto-foto itu diambil.

Pelatih tim sepak bola yang sekarang adalah kakak kelas saya. Jadi ini adalah semacam  reuni bersama alumni SD.. Hahahah… Saking semangatnya, saya teriak-teriak sambil lompat-lompat (kabayang waktu SD saya juga gitu), dan parahnya,, saya lupa kalau saya sudah “umur” di antara gerombolan anak berseragam olah raga esde… Dan olalaaaa,, seseorang menepuk punggung saya sambil ngomong:

Ojo sampe ngono, mengko watuk lho…” dan,,, setelah saya lihat dengan seksama siapa yang menepuk saya,, beliau guru SD saya… Hahahha,,, berasa malunyaaa… waktu saya mau ngasih tahu adik2 saya yang lain, mereka malah udah ketawa2 sambil nunjuk-nunjuk dari jarak yang cukup jauh dari saya. Saking fokusnya nonton bola saya sampai ga nyadar mereka “MALU” punya mbakyu yang dah ga eling umur…. Hahahaha,,,

Dan saya (dan adik-adik saya) pun salim sama si Bapak Guru yang kemudian tak lama nyusul pula beberapa guru yang lain.. hehehehe… *saya maluuuu*. Setelah ngobrol dikit yaaa sekitar kerja di mana, tinggal di mana, dan satu pertanyaan iblis “sudah ada calon apa belum”, akhirnya bapak dan Ibu guru yang saya hormati tersebut mempersilahkan saya untuk kembali berteriak2 kali ini lengkap ditemani oleh adik2 saya yang ngancam “Awas jejeritan meneh, aku ga kenal kamu,, isin aku”. Hahaha *piss ah* 🙂

***

Saya jadi ingat di masa esde saya,, saya juga ikutan Porseni, dua tahun berturut-turut di cabang Seni Lukis, dan dua tahun berturut2 selalu dapet perunggu di Kabupaten alias ga lolos ke tingkat propinsi hehehe 😀 :D. Naah di PORSENI tahun kedua itu saya gambling nyoba cabang lain. Berawal dari seringnya ngabisin waktu hari Sabtu (yang waktu itu selalu pulang lebih pagi) untuk main bulu tangkis di Gedung KPRI :), akhirnya saya minta didaftarkan cabang bulutangkis juga.

Seni lukis saya sudah pasti lolos tingkat kecamatan (cieeeeeh sombong saya :D), jadi saya mau coba fokus ke bulu tangkis. Hahaha, ternyata posisi underdog bagi saya itu enak. Di situ ada beberapa pemain bulu tangkis yang dilatih dari kecil dan jadi runner up porseni tahun sebelumnya. Saya hajar aja,,, dengan bermodal raket pinjaman dari Bapak tersayang (semoga Bapak tersenyum kalau baca tulisan ini,, gimana Nita ngirimnya ya Pak? hehehehe), saya bermain lepas. Eh, tak tahunya satu demi satu lawan saya pukul.. Sampai akhirnya saya masuk final. Dan,, ketemu sama unggulan pertama (huahahahaha berasa kaya Uber cup saja saya…).

Posisi tak diunggulkan itu jadi lecutan bagi suporter saya untuk nyemangatin saya lebih dari biasanya.. Dan akhirnya keluarlah teriakan-teriakan pembangkit semangat lengkap dengan panggilan2 kesayangan seperti “Ayo Niiiiit“, “Ayooo Dek Nitaaaaa“, “Teboooook,,, ayoooo“, atau bahkan “Ayo Nduuuuut ojo kalaaaaah”. Dan saya merasa senang saja dipanggil seperti itu.. Karena saya rasa mereka memberikan harapan mereka ke pundak saya, maka saya tak rela menyerahkan gelar juara kepada si unggulan pertama. Saya yang waktu itu terinspirasi mba Mia Audina,, lagaknya mukul2 bola pake gaya setengah kayang, walau beberapa kali tersungkur dan jatuh,,, akhirnya saya: MENANG.. 🙂 😆

Saya lihat para atlet cilik yang bermain di PORSENI yang saya tonton kemarin menyajikan pemainan cantik dengan sepenuh tenaganya.. Mereka pasti merasa bangga ditonton oleh banyak orang, tak cuma teman sekelas atau teman satu sekolah, tapi juga orang-orang yang mampir dan menyempatkan diri melihat pertandingan (karena lapangan lokasi pertandingan terletak tak jauh dari pusat kecamatan dan pasar) :D. Mereka pasti akan sangat senang jika bisa jadi hero bagi sekolah, mempersembahkan kemenangan..

Kalau saya pikir2 PORSENI sengaja diselenggarakan untuk memupuk jiwa sportif bagi anak-anak SD, yang pastinya harapannya para guru yang notabene lebih sepuh pun juga jiwanya sportif.. It’s all about game…and how to face this game wisely :). Jauuuh setelahnya diharapkan bocah-bocah SD ini termasuk saya ga jadi orang yang nglokro,, penuh semangat untuk memberikan persembahan dan totalitas dalam hidup dengan jujur dan rendah hati (aku ngomong opo ikiiii?? Hahahahaha :lol:)

Ini dulu juga atlet2 PORSENI 😆

PS: Adik2ku,, aku rindu 🙂

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s