Posted in Hidup, Lesson Learnt, Renungan

Macapat dan Pupuh: Kearifan Lokal

Minggu lalu saya akhirnya dapet kesempatan untuk main lagi di keluarga SHIEFILA. Saya berangkat Sabtu pagi dan untungnya tak begitu banyak macet, walaupun pekan lalu adalah long wiken :D. Sebenarnya saya ke SHIEFILA karena memang ada agenda syukuran. Syukuran ulang tahun pernikahan dua pasangan dan syukuran ulang tahun dua anak :). As usual ketika saya sampai sana,,, saya ditodong pake microphone… Saya pikir saya disuruh nyanyi… (ehm) tapi ternyata saya salaah… saya harus ngemsiiii.. Hahahaha 😀

Jadi inget waktu masih ngampus dulu,, tiap lihat microphone pasti ga sabar ingin memegang dan berkicau… Jadi seringlah saya ngisi acara ngemsi di sini dan di situ. Tapi booo… sudah lama lah itu.. Terakhir saya ngemsi di Seminar ASBISINDO (Asosiasi Bank Syariah Indonesia)  itupun bulan September 2010 (woooo setahun lebih ternyata saya ga ngemsi). Tapiii,, yaa yang namanya bawaan orok dan tak tahan ngeliat mic nganggur,, saya terima sajalah tawaran  todongan itu. Hahahaha 😆 dengan baju dan tampilan seadanya… (abis ga dikasih tahu siiiiy)

Abis acara inti, kemudian lanjut ke acara nyonya nyanyi2… Naaah,, keponakan saya yang sedang ulang tahun (Namanya Nabila) bawa temen2 SDnya.. Dan dia bilang kalau saya pinter suka nyanyi.. Akhirnya saya pun bernyanyi sama mereka 😆 (dasar emak tukang asuh anak2).. Dan yang membuat saya takjub salah satu temen dari Nabila (Hanna namanya) punya materi suara yang luar biasa.. jujur materi suara saya kalah jauh dibandingkan dia *nangis kejer 😥 *

Agen Budaya,, siapa lagi kalau bukan kita?

Sekali lagi,,, dia tak hanya membuat saya takjub tapi juga geleng-geleng heran dan mau tak mau ingatan saya melayang kepada teman SMA saya (adik kelas saya dulu di SD, namanya Endah). Endah dan Hanna punya persamaan. Materi suara mereka sama-sama bagus dan minat mereka yang membuat saya salut… Mereka mengenal dengan baik Budaya Daerahnya.

Endah berasal dari Jawa (karena satu kota dengan saya waktu SD) dan waktu itu dia sangat lihai membawakan Macapat, sementara Hanna yang sekolah di Bogor,, kemarin juga mampu membuat saya terpukau dengan kepiawaiannya membawakan Pupuh. Baik Macapat ataupun Pupuh ternyata memiliki banyak persamaan, beberapa di antaranya judul sama dan filosofi yang terkandung juga sama. Contoh: Pucung/Pocung adalah puisi atau tembang yang digunakan untuk melecut diri sendiri.

Kalau Endah sekarang memilih untuk jadi Guru Bahasa Jawa, saya masih belum tahu akan jadi apa Hanna di masa mendatang. Yang jelas, waktu saya menanyakan apakah dia suka dengan pupuh atau adakah yang memaksa,, dia bilang:

“Karena nenek saya suka (baca: artis) pupuh, saya diajari pupuh dari kecil. Saya suka pupuh dan saya gak ngerasa dipaksa tuch Mba :)”

Saya salut,, orang-orang seperti Endah dan Hanna ini yang patut dikonservasi dan dipropagasi diperbanyak :D. Soalnya, dengan semakin terbukanya akses budaya “luar” ke Indonesia dan filter serta sense of belonging terhadap budaya sendiri juga semakin memudar, saya khawatir cucu saya kelak tak lagi mengenal yang namanya macapat.. (saya juga masih plegak pleguk alias kamisosolen bin terbata-bata kalau nembang macapat yang sulit). Apalagi sekarang banyak orang tua muda (yang sama-sama Jawa) menggunakan Bahasa Indonesia dalam bahasa sehari-harinya… (Sumpah bukan berarti saya tidak menjunjung tinggi Bahasa Indonesia). Menurut saya, mengajarkan anak bahasa daerahnya itu perlu.. Karena kalau bukan kita sebagai agen-agen pelestari budaya (yang salah satunya adalah budaya daerah), siapa lagi? Mau minta nenek kita ngajarin anak kita? Kasihan neneknya nanti dipinterin sama anak kita 😀 😎

Banyak sekali kearifan lokal yang bisa ditemui dari pupuh dan macapat. Itu baru dari dua daerah, Jawa dan Sunda,,, bagaimana dengan kearifan lokal yang Indonesia miliki? Pasti buanyaaaak dan kalau kita bisa memahaminya,, mungkin kita bisa jadi arif dan bijaksana kali yaaaa *ngasal setengah berharap* 😉

Baiklah, that’s all…. Selamat pagii.. selamat beraktifitas…. 😀 😛

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

4 thoughts on “Macapat dan Pupuh: Kearifan Lokal

  1. saya jujur, saya tidak terlalu paham dengan kebudayaan sendiri. justru ketika saya di negeri orang, saya mulai mengerti banyak tentang kebudayaan indonesia. nggak ngerti2 banget sih. tapi jadi tahu 🙂

  2. saat jauh dari Negeri sendiri, saat itulah saya merasakan betapa besar dan indahnya kebudayaan kita. di luar sana, PPI begitu semangat mengenalkan kebudayaan kita pada dunia. begitulah yg saya rasa. sepulangnya ke tanah air, saya makin cinta Indonesia 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s