Posted in Kata Orang ini Cinta, Ngerumpi

Kotak Surat

kotak surat

Dulu sekali saya ingat, setelah membaca cerita bergambar di buku anak-anak yang bercerita tentang senangnya mendapat surat di kotak surat depan rumah, saya terobsesi untuk punya kotak surat.

Dulu juga saya ga sadar kalau rasanya ga mungkin punya kotak surat di depan rumah saya. Sekarang kalau ingat itu, saya suka geli. Rumah di desa yang ga begitu ramai, halamannya luas penuh tanaman buah rambutan dan mangga. Rasanya kotak surat bukan hal yang lumrah. Hehehe…

Tapi selalu, sampai saat ini setiap saya berjalan kaki berangkat kerja (karena memang saya salah satu dari pejalan kaki di Jakarta ini), dan melihat kotak surat di rumah-rumah sepanjang jalan saya selalu ingat keinginan saya.

Kotak surat… Benda itu mungkin sudah tak lagi dipasang di rumah-rumah baru. Lebih banyak dari kita menggunakan surat elektronik (e-mail) dan memanfaatkan internet dan juga ponsel serta layanan-layanan messenger lainnya untuk saling terhubung baik dengan keluarga, kolega, teman dan ehm pacar. Whatever, memang sekarang seribu cara digunakan untuk mendekatkan jarak (lagi-lagi jarak). Hehehe.

Sudah tak banyak yang menuliskan dengan tulisan tangan di atas kertas, meskipun cara tersebut diakui sebagai sesutu yang romantis kecuali kalau tulisan tangan berisi petisi atau umpatan tentunya. Bagi saya, saya selalu mendamba di hari spesial (bisa ulang tahun, lebaran, atau nanti menikah), saya bisa mendapat semacam kartu atau kenang-kenangan bertuliskan tangan teman-teman, sahabat, dan keluarga saya.

Pun begitu, meski saya tak bisa mewujudkan kotak surat itu di depan rumah,,, saya punya kotak surat sendiri,, yang tiap pukul tiga seperempat tiap pagi, selalu ada surat yang masuk ke dalam kotak surat itu. Hampir setiap hari.

Awalnya saya memang tidak begitu memperhatikannya, tapi lama-lama rasanya kotak surat saya itu penuh. Dan saat saya berusaha untuk mengambil “suratnya” satu-satu, saya pasti merindukan surat-surat yang lain dari pengirim yang sama itu datang lagi. Ahh….

Pukul tiga seperempat tiap pagi di tempat yang berbeda, seseorang selalu mengirimkan sepucuk surat berisi doa yang dihantarkan dengan tulus kepada-Nya,, dan DIA dengan utusan-Nya mengirimkan surat-surat itu untuk mengisi kotak surat saya.

 

 

 

PS: Matur nuwun Bu, yang telah rutin mengirimkan surat-surat itu ke kotak surat di hatiku. I love you πŸ™‚

Gambar dari sini

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

7 thoughts on “Kotak Surat

  1. Never get tired of doing little things to others, because sometimes those little things may mean so much to them. That’s why I won’t get tired of sending my little hi to you.

    Memang betul sekarang sudah bukan lagi zamannya kotak surat. Hihi.
    Dulu juga pernah terpikirkan begitu Nek. Kayaknya asyik punya kotak surat sendiri. :))

    1. haisssyaaaah,,, aku wong jowo,,, ga iso enggres2an πŸ˜€ πŸ˜€

      Hehe,, iyaa.. kayaknya bakal jadi nostalgic feeling kalau pas tua ngenang surat2 yang datang dari kekasih lewat kotak suraaat πŸ˜†

      1. Dulu, pas masa SMP, aku pernah dapat surat-surat pendek ditulis tangan dari murid cewek. Hihi.

        Tapi dulu aku buta banget urusan tulis-menulis. Hihi. Makanya lebih sering jarang dibalas pesannya. *dudul*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s