Posted in Hidup

Untuk Veni

Kamu pasti masih inget dengan jelas,, saat dulu kita bertemu entah tahun berapa dan kamu menghuni bekas kamarku..

Aku tak begitu ingat, kapan pertama kali kita dekat, kamu ingat?

Apa sejak aku sering gangguin kamu dan room mate-mu?

Atau sejak kamu marutin kunyit saat maag-ku kambuh? Mungkin ingatanmu lebih baik dari aku hehehe…

Ahh,, memang benar mungkin kata orang bahwa kita tak perlu meminta seseorang menjadi sahabat, tapi karena kita merasa ada yang sama (kata orang nge-klik) maka jadilah kita,, sahabat yang yaaaa begini ini 🙂

Kamu pasti tahu dan paham juga, kenapa aku yang penggila kopi rela minum teh bersamamu di bawah pohon glodogan di dekat gedung wisuda saat aku, kamu, atau mungkin kita sedang gundah dan butuh tempat berkesah

Dan kamu pasti mengingat dengan jelas, tingkah kita yang menertawakan hidup kita yang waktu itu ga lulus-lulus, aku dengan penelitian super susahku (karena alat analisis yang belum lumrah digunakan saat itu), dan kamu dengan dosen super anehmu (yang ngajakin kamu bimbingan di mobilnya, muter-muterin kamu dan menurunkan kamu di daerah antah berantah saat dia rasa bimbingannya sudah cukup).

Ahh,, mengenangmu memang selalu lucu…

Atau, kamu ingat juga waktu kita berencana tampil gothic di wisudaan kita dan abis itu mewek-mewek setelah denger orang ngomong “Inilah Perjuangan” sambil angkat balok es yang besar… Bahkan saat itu kita sama-sama manggut manggut, belajar dari seorang penjual es.

Aku masih ingat saat kita keranjingan soundtrack film horor,,dan kini, saat aku mendengar lagu itu lagi, malah yang terbayang wajahmu, bukan wajah Shareefa Danish yang bermain di film itu 🙂

Dan,, aku juga ingat kita sama-sama tersenyum saat sama-sama memakai toga di hari yang sama, dan kau dengannya serta aku tersenyum nyengir melihat dia yang selalu ada dalam cerita-ceritamu.

Kini,, saat Selat Sunda memisahkan kita buku mukamu pun tak sering kau kunjungi dan kadang pesan singkatku pun tak berbalas… Aku masih di sini, tersenyum mengingat semua kebodohan kita

Dan aku yakin, itu semua karena sibukmu atau mungkin deretan digit yang menghubungkanku denganmu tlah berganti sedangkan kamu sama sekali ga ingat deretan digit milikku,,, (kamu dan aku ini memang sama-sama pelupa) hahaha…

Dan, sampai saat ini,, aku masih mengingatmu persis sama saat aku melihat teh dalam cup yang dijual baik di jalan ataupun di pusat perbelanjaan itu.

Bukan, bukan karena mukamu mirip sama gambar kartun di penutup cup itu, tapi karena aku merindumu… Veni 🙂

PS: Kamu sekarang di mana ya?

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s