Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt

Anak Kampung Nonton Resital Piano Wibi Soerjadi

Wibi’s fortissisimo is not harsh, every note is articulated according to its role. Smart, very smart way of optimizing the pedal. – @helensusanto –

Itu salah satu komentar yang berhasil saya tangkap dari kicauan para saksi aksi spektakuler Wibi Soerjadi.

Ya, kemarin saya akhirnya bisa masuk ke aula Erasmus Huis (Di belakang Kedutaan Belanda) untuk duduk manis menyaksikan resital piano dari pianis yang juga composer dari Belanda peranakan Jawa itu. Ini kedua kalinya saya menyaksikan konser musik yang serius setelah konser Agriaswara-nya IPB.

Saya datang bersama Mbak Kostan saya yang sedang jadi BuMil. Karena resital ini gratisan maka saya sengaja datang lebih awal, tak ingin terulang ga bisa masuk saat pertunjukan Introdans di tempat yang sama. Soo… pukul 18.00 saya dan Nyah Ade sudah memegang tiket. Antrian juga sudah mulai mengular… Saya jadi penasaran, ini beneran suka musik klasik apa karena ada gretongan ya? hehehe

Kata bule-tinggi-ganteng-pembeli-french-fries saat saya beli burger buat Nyah Ade:

Wibi is not only very good, he’s amazing and magnificent pianist

Setelah dapet tiket, audience tak langsung bisa masuk ke gedungnya. Nunggu dulu sampai gate dibuka, dan ini menghabiskan waktu sejam lebih. Untungnya ada boydrink (iki bahasa mana yaaa??? :mrgreen: ) yang keliling ngasih softdrink… hakakakak. Tepat 19.15 gate dibuka dan untungnya sudah dapet tempat,, karena ada Ibu Karen (atasannya atasan saya di kantor) yang masuk sama atase pertanian Belanda Mr. Rummenie,, di tempat yang pas tengah dan wenak wis.. 🙂 *suwun sanget Bu Karen*.

Saya dan BuMil duduk dengan anteng, sebelum acara sempat diajak ngobrol sama Bu Karen, masalah kerjaan 😥 (plis deh Ibu,,, jangan kerjaan dulu yaaaa 😀 😀 😆 ). Tak lama kemudian, Mr. Rabbit ( I don’t know his name, but BuMil said that his gesture reminds us for Mr Rabbit in Alice in Wonderland 🙂 🙂 ) announced that the recital will be start. *Blahblahblah, ngomong apaaaaa ini*. Informasinya antara lain tidak diperkenankan mengambil foto dengan blitz dan yang harusnya sudah diketahui adalah tepuk tangan hanya boleh dilakukan sebelum dan sesudah penampilan.

baru dua kali liat grand piano

Daaan,, saya membayangkan Wibi tampil layaknya Chiaki (Nodame Cantabile) lengkap dengan tuxedonya… aiiiih…. *kerjap2*. Tapiiii…. saya salah ternyata.. Wibi tampil di atas panggung dengan pantalon putih dan baju batik warna hijau… (kan di Indonesia yak) Saya kaget, waktu dia senyum… Mirip Takuya Kimura… :lol:. Wibi langsung memainkan pianonya pada part 1 penampilannya:

  • Sonata no 14 dari Ludwig van Beethoven – ini mengalun indah, not-notnya jelas terdengar, sangat jernih.. berasa diayun, dan melihat Tom and Jerry yang lagi baikan. 🙂
  • Fantaisie Impromptu – Chopin.
  • ‘Isolde’s Liebestod’ from ‘Tristan und Isolde’ – Franz Liszt. harmoninya kereeeen. Emosi saya dibuat naik turun di piece ini.
  • Reminiscences de Robert le Diable – Franz Liszt. Kata Bumil, fortississimo yang membuat alat musik kalem itu jadi gahar… dan berasa (maaaaaf) diperawanin :lol:.. Ada marah,, tapi penasaran. (jadi terinspirasi malam pertama pake lagu itu) hahahaha *dilempar pianoo* *alhamdulillaaaah*

Setelahnya Wibi meninggalkan panggung, intermission. Daaan saya berkesempatan narik nafas dengan lega,,, sungguh, saya dibuat tak bernafas sepanjang pertunjukannya. Depan saya yang dari Kedutaan Brazil juga tampak manggut-manggut saat Wibi mempertunjukkan staccato yang jernih… Dan saat saya melihat ke arah BuMil, dia bilang….

“Ini bagus banget. Yang tadinya mikir bakal ngantuk, ga bisa ngantuk. Berasa dibawa ke dunia manaaa gitu”

Wibi tampil kembali ke panggung, kali ini dengan batik corak putih merah. Kaos kaki meraaah :). Dan langsung mainin

  • Frühlingsnacht – Schumann-Liszt yang ga tahu kenapa saya ngerasa berbunga-bunga… seneng dengerinnya, sampai senyam senyum sendiri dan naruh tangan ke depan mulut biar mulut saya ga teriak. 🙂 🙂
  • Widmung – Schumann-Liszt. Yang membuat saya merasa merdeka dan bebas… :lol::) *orang awam sok tahu gitu saya*

Dan lanjut dengan Piece ciptaannya sendiri…. Apuleius’ Amor & Pscyche… Terdiri dari 9 movement (tanda beda movement adalah jeda yang agak lama dari bagian lagu satu ke yang lain). Dan lagi,, emosi saya dan juga audiens lainnya dibawa menari-nari, dari yang merasa bahagia, jatuh cinta, sedih, marah, derita, dan bahagia lagi. Puncaknya setelah selesai memainkan movement ke 9…. Benar-benar rela menegakkan tubuh untuk berdiri…. standing ovation untuk Wibi,,, yang juga dilakukan oleh beberapa orang. WOOOOW… Saya melirik ke bule sebelah saya,,, dan meneriakkan,,, It’s wonderful, magnificent, and amazing perform, right? 😆

Wibi tak langsung menyudahi pertunjukannya, dia memainkan lagi 3 encores. Yang saya ingat  Medley lagu2 Queen yang lagi-lagi membuat saya memberikan standing ovation… bagaimana tidak, lagu-lagu Queen seperti Mama dan We are The Champion benar-benar dibuat megah dan wahhhh di tangannya. 🙂 🙂

Encore terakhir, Bengawan Solo dimainkan dengan cerdas,, dan saya merasa sekitar saya dialiri air yang jernih dan gemericik…

Ini adalah permainan piano dengan jiwa…. TOUCHING….. Sungguh beda rasanya saat saya mendengar Chiaki main piano,, kalau dulu saya udah melongo… kali ini saya benar2 tak bernapas dan dibuat gilaa….. SAYA PUAS…. Wibi berhasil mengantarkan pesan dari piece yang dimainkan kepada para penonton dengan sangat apik.

Wibi juga mengadakan meet and greet dengan para penggemarnya. Tapi Wibi pake sarung tangan hitam dan tak mau salaman. Alasan dia karena berkeringat. But whatever,, ini pertunjukan mahaaal banget yang bisa ditonton gratisan oleh anak kampung kaya saya.. hehehe…

JUARAAAAA….

Thanks to Bumil yang udah mau antre berjam-jam dan nemenin akyuuuu 😆 😀 😀 😀

This slideshow requires JavaScript.

PS: Tanggal 5 Juli ada lagi di Erasmus Huis dan jam yang sama. Ada yang mau temani saya??

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

11 thoughts on “Anak Kampung Nonton Resital Piano Wibi Soerjadi

  1. Udah gaya pake baju orange, biar di liat “belanda” banget! nyampe sana, orang belandanya pake batik! yaeeelaaaaah….

  2. Kemarin sy habis nonton dan emang keren banget, coba yg tgl 20 juninya sy nonton juga..”Reminiscences de Robert le Diable – Franz Liszt. Kata Bumil, fortississimo yang membuat alat musik kalem itu jadi gahar… dan berasa (maaaaaf) diperawanin 😆 .. Ada marah,, tapi penasaran. (jadi terinspirasi malam pertama pake lagu itu) hahahaha *dilempar pianoo* *alhamdulillaaaah*”…..yang berasa diperawanin itu pianonya atau (sori) pendengarnya? maksudnya apa…koq bisa yah..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s