Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta

Mendung Menghujan

Aku sering bertemu mendung dua minggu terakhir ini. Juga hujan, dan sengaja membiarkan tubuh terbalut hujan.

Merasakan setiap tetes bahkan guyurannya. Tak berlari, merasakan baju yang mulai membasah, badan yang mulai menggigil, melihat orang-orang di sekitar yang berlarian, senyum merekah dari penjual gorengan, atau senyum malu dari pasangan yang dirudung rindu, dan aroma tanah basah itu yang benar-benar melenakan. Hujan adalah penyempurna berbagai penggal cerita.

Mendung dan hujan itu melodi pemutar kenangan. Baik masa kecil, kampung halaman, bahkan tentang seseorang.

Tapi, tak selamanya mendung itu berakhir hujan

Dan bagaimanapun aku lebih suka mendung yang berakhir hujan. Selalu ada cerita, mendung yang menghujan.

Mendung, angin basah yang dingin mulai terasa.

Mendung itu meringkuk di kasur, berselimut.

Mendung itu menikmati secangkir kopi dan sekeping rindu akan kenangan.

Tentang kenangan…

Mendung itu mengingat saat memandikanmu, mendung itu mengingat saat menciummu, mengusap wajahmu.

Mendung yang berakhir hujan, membirukan hati dan rasa.

Hujan yang mewujud langit biru, desau angin, dan suara burung yang mengiringi tubuhmu diturunkan perlahan ke dekap bumi.

Merindumu, mencoba merasa hadirmu, dalam balut hujanNYA.

 

 

Bapak…

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s