Posted in Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt, Renungan

Hamil Lagi

Siang-siang ngomongin hamil lagi, ya… pregnant. Bukaan,,, bukan saya yang hamil. Swear. Ini tentang salah satu rekan kerja saya, sebut saja namanya Lek Mul. Lek Mul ini anaknya sudah 5, yang paling kecil sekolah saja belum.

Kemudian, kemarin lusa, saya dapet kabar dari atasan saya kalau istrinye Lek Mul hamil lagi. Berarti hamil anak ke-enam. Yang sedih, karena kondisi ekonomi Lek Mul ini tak sesejahtera Pak Mbeye (kejauhan gak sih mbandinginnya?) Lek Mul dan istrinya berniat untuk menghentikan kehamilan istrinya dengan obat dan pergi ke alternatif ๐Ÿ˜ฆ ๐Ÿ˜ฆ

Atasan saya langsung beri masukan “Mbok ya jangan dihentikan, adanya dikasih hamil lagi itu ya karena kamu dianggap mampu, meski susah, tapi anak-anak mungkin dilihatNYA jadi anak yang baik. Lagipula gugurin dengan alternatif juga membahayakan istri kamu”.

Kata Lek Mul “Saya malu Bu, anak sudah lima, banyak tanggungan (baca: Hutang), umur juga sudah tak muda lagi”.

“Masing-masing anak punya rejekinya masing-masing. Tetaplah berprasangka baik sama DIA”.

Pesan di atas adalah pesan dari atasan saya untuk Lek Mul. Menurut saya benar adanya. Meski istrinya Lek Mul baru telat semingguan dan hasil test pack-nya positif ga berarti bisa bebas diluruhin. Adanya mudghah (gumpalan darah calon anak di rahim perempuan) adalah titahNYA dan menurut saya ini patut disyukuri.

Lain lagi dengan rekan kerja saya yang lain, Ibu-ibu setengah baya. Dari nada bicaranya beliau sebenarnya prihatin tapi menyesalkan dan setengah menyalahkan Lek Mul atas kelalaian istrinya konsumsi pil KB.

Yang namanya KB ya harus rutin, ga boleh lalai. Adanya istri kamu hamil lagi ya karena lalai. Harusnya istri kamu prihatin, ngertiin kondisi juga. Kalau dia lupa, kamu yang ngingetin.

Saya hanya bisa sedih, dan nyeletuk.

Jangankan hanya pil KB, KB suntik, kondom, atau spiral sekalipun, saat Allah bilang jadi, ya jadilah anak.

Saya memang tidak bisa banyak membantu Lek Mul dari sisi materi, hanya semampu saya menguatkannya, kalau anak adalah titipan. Kalau orang mau nitip, pasti nyari orang yang tepat buat dititipin. Mungkin Dia memandang Lek Mul bisa dititipin ciptaan-Nya. Hfffft… Sedih juga sebenarnya melihat kondisi ekonomi Lek Mul,, tapi bukankah DIA Mahakaya yang akan mencukupkan kebutuhan hambaNYA yang mau memohon dan meminta serta mendekat padaNYA?

Satu hal lagi,, kalau Lek Mul ini lancar banget punya anaknya Lek Darto, rekan Lek Mul ini yang usia pernikahannya lebih tua dari Lek Mul, belum punya anak sampai sekarang.

Mahabesar ALLAH atas semua titahNYA di dunia ini.

*ditulis sambil berharap, semoga Lek Mul dan Istrinya diberi kekuatan dan keyakinan bahwa anak adalah karunia yang tak setiap orang mendapatkannya*

Gambar dari sini

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

13 thoughts on “Hamil Lagi

  1. Serba salah ya.

    Mencoba paham jalan pikiran Lek Mul. Jadi dengan kondisinya yang sekarang, 5 anak jaman sekarang. Kalau buat makan, mungkin masih bisa seadanya.

    Tapi buat sekolah? Belum kalau sakit?

    Kan “besok” anak juga jadi tanggung jawab Lek Mul juga. Kalau ada apa-apa sama anaknya, ya Lek Mul juga yang mesti mempertanggung jawabkan, bukan atasannya, bukan teman-temannya.

    Nggak heran Lek mul was-was dengan kehadiran si nomer 6.

    Tapi kok nggak steril aja sih?

    1. Ada beberapa pertimbangan yang menjadikan istri Lek Mul tak disteril.

      Yaah,, mungkin bener apa yang Mba Rara katakan “melihat” dari sisi Lek Mul. Dia sudah usaha maksimal…

      Makanya terus kemudian saya tulis, ada DIA yang Mahakaya, yang akan ngasih apa yang kita minta. Kalau kita ga minta, walaupun DIA kaya, ya mungkin ga dikasih juga… ๐Ÿ™‚

      Thanks Mba dah mampir.

  2. Huffff,, membayangkan aja berat, apalagi menjalankan. Tapi kadang emang hidup ndak bisa memilih. So, kalo prinsip aku jalani sajalah. Toh, Allah tidak memikulkan beban pada hambanya melebihi batas kemampuannya. Masih inget ayatnya khan?

  3. โ€œMasing-masing anak punya rejekinya masing-masing. Tetaplah berprasangka baik sama DIAโ€.
    benar, Tuhan menjamin rejeki tiap makhlukNya, tapi tidak menjamin masalah harta, kita yang harus mengusahakan sendiri. Kalo hanya untuk makan, rejeki dari Tuhan sudah lebih dari cukup, tapi untuk sekolah, beli sepeda, beli baju dan lain-lain dibutuhkan harta dan itu Tuhan tidak menjaminnya tapi kita yang harus mengusahakannya #cuma pendapat pribadi sih, tapi karena itulah saya jadi berusaha keras untuk bisa mencukupi kebutuhan anak istri saya, karena Tuhan hanya akan memberi kalau saya memperjuangkannya#

    o ya, KB yang paling ampuh ya cuma satu, KB “cengkir”, pasti manjur :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s