Posted in Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt, Renungan

Jujur Itu Meringankan (Menurut Ngana?)

Saya pernah ada pada satu masa di mana saya diceritani teman saya sebut saja Bang Ono. Bang Ono yang patah hati. Hahaha, patah hatinya anak ingusan. Dia suka dengan teman perempuan saya.

Pada suatu hari, kami sama-sama menerima undangan pernikahan. Teman perempuan saya itu menikah dengan kakak kelas saya. Jujurnya adalah, saya meringis karena berarti saya ndak bisa lagi tebar pesona sama kakak kelas saya itu. *pentung pala sendiri* 😆 Tapi yang paling mengejutkan adalah Bang Ono tiba-tiba ngirim sms panjaaaaang yang isinya dia sedih karena teman perempuan saya menikah dengan kakak kelas saya.

Inilah cerita hati yang sedang retak. Lalu saya dengan gaya sok wibawa, meladeni ceritanya. Ceritanya, Bang Ono sayang sama teman saya berawal dari persahabatan bagai kepompong.. *halah*. Guess what happen then?

Bukaan, saya ga jadian kok sama Bang Ono. Kata Bang Ono, setelah dia cerita jujur tentang apa yang selama ini dipendamnya kepada saya, dia kuat untuk melanjutkan hidupnya. Dia mampu untuk tetap berkomunikasi dengan teman perempuan saya secara baik-baik.

Dan, beberapa bulan lalu, Bang Ono mengirimkan undangan pernikahan kepada saya. Saya sungguh bahagia. Dia telah menemukan teman sejiwa yang mau dan mampu diajak urip susah seneng bareng-bareng. Tapi saya juga patah hati.

Apakah saya suka sama Bang Ono? Tidak, karena sejujurnya saya ngiri„ Bang Ono bisa sedemikian lepas terhadap kisah masa lalunya. Lalu saya? Bang Ono bisa demikian jujurnya dan tak berpaku pada masa lalu.

Setiap orang kan memang berbeda caranya, apalagi kalau masa lalu itu tetap berputar-putar di kepala dan membuat susah berlalu begitu saja.

Saya mikir, kalau waktu dia ndak jujur tentang apa yang dirasakannya, mungkin dia belum nikah„ waa ya ndak juga… wong jatah tiap orang beda-beda.

Saya juga saat ini masih belum bisa jujur sama hati saya kok. *lhadalah malah curcol*

Trus suatu malam, Ibuk saya, bilang:

“Jujura ndhuk, ada ndak sing mbok taksir, gitu aja kok repot wong jujur karo Ibuke dhewe” (Jujurlah Ndhuk, ada nggak yang kamu sukai, gitu aja kok repot orang jujur sama Ibuknya sendiri).

Waktu itu saya cuma ketawa-ketawa ga jelas. Iya, menurut saya ini repot, karena menyangkut hajat hidup orang banyak, halah. Multiplier effectnya bakal dahsyat.

Kata temen saya, Ibu sudah kena half life syndrome, sementara saya quarter life syndrom gitu? Hahaha,, ada-ada saja. Etapi iya sik, kadang saya berharap seminggu ga ditelpon Ibuk takut ditanya-tanya.

Tapi kayaknya saya harus meguru sama Bang Ono„ how to reveal his feeling, in honesty„ whatever will happen then. Ada yang mau ngajarin saya?

Gambar nyolong di sini

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

22 thoughts on “Jujur Itu Meringankan (Menurut Ngana?)

  1. Ada yang namanya kebohongan putih, kebohongan demi kebaikan. Akan tetapi kebohongan putih itu sialnya sering berubah menjadi hitam secara tiba-tiba. Sebisa mungkin jujur apalagi soal taksir menaksir.

      1. sya sering ke badiklat dan kmenterian ESDM mba. klu dr badiklat, sya sring nunggu travel d tebet tk plng lg ke bandung, nah klu ke kementerian, sya sring ke tamrin tk nunggu travel plang.
        mba dkt ga dgn daerah itu??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s