Posted in Hidup, Lesson Learnt, Renungan

Terminal

Seperti biasa, aku hanya sebagai tempat singgah. Berkali-kali bus-bus itu menghampiriku dan pergi (lagi). Datang dan pergi (lagi-lagi, lagi).

Hey,,, siapakah gadis dengan kamera tergantung di lehernya itu? Wajahnya ceria, dengan senyum selalu terpasang di wajahnya. Baru kali ini aku melihatnya. Dia seolah berada dalam duniaku, di sini, tempat orang singgah dan pergi.

“Kita bernasib sama ya..” ucapnya seolah mengajakku bicara. Apa benar dia bicara padaku?

“Maksud kamu?” kucoba untuk membalas ucapannya.

“Iya, kita,,,”. Aku terkejut, dia benar-benar memahamiku.

“Aku dan kamu”. Lanjutnya. “Kamu
dengan kendaraan dan manusia-manusia serba terburu yang mendatangimu dan kemudian pergi. Setidaknya aku lebih beruntung dari kamu”.

“Kenapa?”

“Karena mereka yang singgah di hatiku setidaknya tinggal sedikit lebih lama dibandingkan mereka yang menyinggahimu. Dan mereka, punya tempat masing-masing dalam ruang kenangku”.

“Hmmm… iya, setidaknya kita tetap punya satu persamaan”.

“Apa itu?” tanyanya.

“Kita sama-sama hanya jadi persinggahan. Kau ingat ‘kan? Kau tak ada bedanya denganku, hanya terminal saja”.

“Iya,,,” ucapmu tetap tersenyum. “Kalau itu memang tugasku, tugasmu, tugas kita, yaaa sudah sepatutnya bukan, kita menjalankan titahNYA?”

Aku termangu, aku dengan segenap hati memeluknya dengan suasana persinggahan untuk merayakan persamaan kami.

Repost dari Kompasiana saya

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

12 thoughts on “Terminal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s