Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt, Renungan

Berenang di Monas #1

Emang Monas ada kolam renangnya ya?

Hahahaha,, tentu tidak.. Ini cerita ketika saya pengen mewujudkan keinginan bisa naik ke Monas. Hari Selasa, pas tanggal merah Nyepi kemarin, dengan semangat 45 siap-siap dari kostan, pas mau nutup pintu kostan.. Ibu saya nelpon, dan as usual,, menghabiskan waktu lebih dari 15 menit.. Hehehehe..

Masih dengan harapan yang menyala. Saya naik kopaja sampai Gambir dan jalan dikit ke Monas, sedikit ngebut, saya menuju ke areal pintu masuk. Sampai di sana pukul 15.13 dan ulalaaa loket ditutup pukul 15.00. Lemes? Iya.. Sedih? Iya.. Daripada langsung pulang, mending saya baring-baring dulu baca buku *untung bawa buku* ๐Ÿ˜€ Ashar dan Maghrib saya shalat di Mushalat Stasiun Gambir.

Menyaksikan langit senja hari itu bikin saya seneng. Kereeen banget, tapi ga saya poto.. Ga punya sesuatu buat moto selain mata dan ingatan saya ๐Ÿ˜€ :D. Saya seperti berada di sebuah tempat menepi, di mana orang-orangnya tak peduli apakah besok punya pekerjaan yang menumpuk atau tidak, punya masalah atau tidak. Atau,, justru mereka datang ke sini karena ingin mendamaikan hatinya? Entahlah. Yang jelas saya suka saat melihat jingga senja ditemani suara-suara anak-anak yang asik bermain layangan ๐Ÿ™‚

Sambil jalan pulang, saya janji untuk datang lagi wiken, that means tanggal 16 Maret ini.

Demi harapan saya untuk dapat mengunjungi puncak Monas selagi masih di sini, tanggal 16 Maret lalu, saya kembali berangkat ke Monas, jelang Dzuhur. Setelah shalat (lagi) di Mushala Gambir, saya bergegas menuju pintu masuk loket Monas. Saya senang karena loket ke museum masih buka. Segera beli tiketnya. Sampai di Museum Sejarah Nasional, saya bergerak dari satu diorama yang dipamerkan ke diorama lain. Berusaha untuk menghadirkan suasana pada saat kejadian terjadi. *lebay

Gambar dari sini
Gambar dari sini

Tapi sungguh, saya sempetย mbrambang waktu menekuri diorama Ibu Kartini yang sedang ngajar dan diorama peresmian dan penerbangan pertama N250. Saya yangย plencang-plencingย sendirian juga sempat tertegun sejenak, di depan diorama Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908. Perempuan yang ada di diorama itu hanya dua. ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Yang saya ingat, diorama tentang proklamasi kemerdekaan RI ada pada 3rd side diorama baris ke 8… ๐Ÿ˜† Setelah menyelesaikan diorama sejarah Indonesia, dari jaman masih melawan Portugis (terbukanya Jayakarta) sampai mempertahankan kemerdekaan, saya segera naik ke lantai tempat penjualan loket menuju puncak monas. Itu pukul 13.45. Dan,,, saya sedih… Loketnya tutup…

Saya tanya ke Mas-mas security yang ada di antrian masuk lift ke puncak, kok belum jam 15.00 loketnya sudah ditutup? Jawabnya, antrian yang naik sudah sangat panjang dan diperkirakan baru selesai pukul 15.30.

Mengobati kecewa saya, saya main-main ke Ruang Kemerdekaan yang tiap jam-nya diputarkan rekaman suara Bung Karno. Wewww… banyak pasangan yang mojok, karena memang ruangannya agak remang-remang :|. Tepat pukul 14.00 di depan Gapura yang ternyata di dalamnya terdapat salinan teks proklamasi, saya merinding.. Lagu Padamu Negeri diputar, dan suara Bung Karno membacakan teks proklamasi menggema. Gak cuman mbrambang ini, tahapannya sudah eluh (air mata)ย saya netes :mrgreen:. Merasa belum bisa apa-apa, belum ngasih ucapan terima kasih atas kesempatan makan dan minum di sini.. di negeri ini. ๐Ÿ™‚ *mellow*

ย 

Gambar dari sini

Tak lama setelah dengerin suara BK, akhirnya saya pulang, sempat kegerimisan juga.ย Walau kecewa, saya berjanji (lagi) untuk datang esok hari, bahkan sebelum loket dibuka ๐Ÿ˜†ย Ini semua karena saya dicekoki Mba Artasya Sudirman lewat novelnya… ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

_Bersambung…_

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

8 thoughts on “Berenang di Monas #1

  1. dicekoki Mba Artasya Sudirman lewat novelnya
    Jadi penasaran sama novel yang dimaksudkan. ๐Ÿ™‚

    ngomong2 dah lama juga gak ke Monas (dalam Monas maksudnya)… kalau gak salah terakhir itu pas SD. hehehe

      1. wah… kalau gitu perlu baca juga buku E.S. Ito (lupa saya judulnya). tentang harta karun peninggalan VOC di Jakarta. Pasti langsung pengen menjelajah kota tua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s