Posted in Hidup, Lesson Learnt, Main-main, Renungan

Berenang di Monas #2 – Wrap Up

Road to Puncak Monas

Setelah gagal menuju puncak di tanggal 16 Maret, saya kemudian datang lagi keesokan harinya. Kali ini dengan semangat yang lebih hore dari sebelumnya, dan waktu berangkat yang lebih pagi dari sebelumnya.

Saya berangkat ke Monas pukul 6.45 dari kost, dan sampai di Monas pukul 7.30 dan jelas saja, pintu masuknya saja belum buka πŸ˜€ Bekal saya pagi itu 1,5 liter air mineral karena saya yakin bakal dehidrasi kalau cuman bawa yang 600 ml :D. Sambil nunggu pintu dibuka, saya perhatikan sekeliling pelataran Monas yang memang ruamenya jiyan tenan. Banyak sekali yang olahraga, jalan-jalan, mesraan makan-makan, dan lain sebagainya.

Pukul 08.00 teng, Bapak security membuka gerbang masuk ke loket Monas, melewati terowongannya kok bikin saya deg-degan *halaaagh*. Akhirnya saya membeli (lagi) tiket masuk ke Monas (warna hijau), dan langsung naik ke loket penjualan tiket ke pelataran puncak. Tiket berwarna pink ini yang mengantarkan saya menuju puncak. Belum banyak orang ternyata *hyaiyalaaah* dan saya masuk kloter kedua yang β€œdiusung” ke puncak.

This slideshow requires JavaScript.

Di dalam lift, Bapak-Bapak usia 40-an yang menjadi petugas pencet nomor lantai menekan tombol 3, dan lift bergerak ke atas. Tak sampai 3 menit. Lift berhenti, dan saya seneeeeng banget melihat cahaya saat pintu kebuka, 08.15. πŸ˜† πŸ˜€

Di Puncak Impian

Again, karena saya hanya bisa mengabadikan apa yang saya lihat lewat mata dan batin saya dan karena ingatan saya yang pas-pasan maka saya nulis di catetan saya. *kaya karyawisata anak SD* πŸ˜€

catetan saya

Satu hal yang kurang sreg di hati saya, ada empat teleskop untuk melihat empat penjuru mata angin dari puncak Monas, tapi ternyata untuk menggunakannya dengan optimal harus memasukkan koin (mbuh apa koin yang dimaksud). Saya coba pakai koin 500-an yang perak tapi ndak bisa, tahu gitu saya bawa macem-macem koin termasuk koin ding dong :lol:. Baiknya info tentang teleskop ini diberikan di loket masuk Monas, jadi pengunjung bisa siap2 koin. Daripada pake teleskop dan malah blawur saya kemudian melihat dari satu sisi ke sisi lain.

Gambar dari sini

Di sisi Timur saya bisa melihat Gambir dan kereta-kereta yang datang serta berangkat lagi, Istiqlal, Katedral. Dari sisi Utara saya fokus saya bukan ke Istana Merdeka tapi lebih jauh lagi,, ke Laut Jawa yang terlihat kremun-kremun. πŸ˜† Terlihat di sisi Barat Mall Taman Anggrek, dan sisi selatanΒ  gedung-gedung skyscraper bilangan Kuningan.

Saya suka melihat dari atas, kepala saya juga anguk-anguk melalui lubang angin yang ada, sejenak merasakan hembusnya, dan mengagumi taman-taman di ke-empat pelataran Monas yang menarik. Saya kemudian ingat tujuan saya naik sampai sini. Ingin melihat tempat saya mencari sesuap nasi yang menaungi saya, yang saya cintai tepat sebelum saya meninggalkannya, dari sisi yang lebih luas.

Saya sempet berbincang juga dengan wisman Jerman yang bernasib sama dengan saya, sudah ke Monas sehari sebelumnya, dan karena hari itu juga dia pulang, maka dia dan teman-temannya bertekad mengunjungi kilometer nol Jakarta. πŸ˜€ πŸ˜€ Sayang sekali, wismannya perempuan, coba laki-laki, mungkin saya geb….. *dibekep* πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜†

Merenangi Langit Monas 09.15 WIB

Puas berada di Puncak, saya turun ke pelataran cawan. Saat antrian turun, (karena lift memang hanya ada satu yang menaikkan dan menurunkan penumpang :D) ada insiden saya didorong Ibu yang membawa anak kecil karena takut tertinggal rombongan, dan saya persilahkan beliau duluan antri di depan saya. Ujung-ujungnya saya dan Ibu itu tetap satu kloter turun. Saya berhenti di pelataran cawan. Luas, lebih bisa menatap langit, lebih bisa menghirup udara, lebih bisa ngumpet, berbaring sambil baca buku.

Banyak anak-anak yang bermain layang-layang. Yang menarik bagi saya adalah di sebelah saya ada Mbak-mbak yang menurut taksiran saya tak berbeda jauh dari usia saya, tapi membawa beberapa anak kecil yang memanggilnya Mama. She was listening music via earphone,, dan saya melihat bahagia di matanya melihat β€œanak-anaknya” bahagia.

Langit pagi itu cerah, biru, berbantal tas yang empuk karena berisi mukena, saya bertelekan di pelataran. Alih-alih mau membaca, saya lebih sering merasai tiupan angin menerobos kerudung saya. Ini pembangkit mood yang sangat baik. Satu-satu potongan cerita sejak pertama kali saya ngenger di Jakarta saya coba hadirkan, resapi, syukuri, meski tak sedikit yang memaksa saya menyusut umbel karena nangis. πŸ˜€

Setelah menatap sekeliling dan melepaskan apa yang perlu dilepaskan, saya bertekad menghadirkan hati baru yang lebih kuat, karena tempaan dua tahun selama di Jakarta. Hati yang akan menjaga saya untuk tetap berusaha memberikan apa yang saya mampu. And at the end, I’ll be fine

Pelataran Taman

Setelah sekian waktu menatap langit biru dan menikmati angin. Saya turun, saya bertekad untuk mencari beberapa sculpture selain Patung Diponegoro. Saya berkeliling dari satu sisi taman ke sisi yang lain. Dan menemukan teori, taman yang paling dekat dengan akses angkutan yang paling banyak dikunjungi. Di sisi Barat, dekat patung M. Husni Thamrin, tempat air mancur menari, saya yakin banyak dikunjungi kalau malam saja. Saya suka melihat sculpture ini. Saya sempat mencatat kalimat di patung tersebut:

Setiap pemerintah harus mendekati kemauan rakyat, inilah sepatutnya dan menjadi dasar untuk memerintah. Pemerintah yang tidak memperdulikan atau menhargakan kemauan rakyat sudah tentu tidak bisa mengambil aturan yang sesuai dengan perasaan rakyat.

Saya sempurna menangis (lagi). Kemudian saya berjalan lagi, melihat komunitas fotografi yang bawa kamera DSLR dengan lensa panjang-panjang. Pengen minta difotoin tapi tak sampai hati *keplak* πŸ˜€ Menyusuri taman dari Barat ke selatan dan berakhir di Timur, di dekat patung persembahan rakyat Jepang. Patung Kartini. Lama, saya menatapnya lama. Mengingat Om Diponegoro, Eyang Kartini, Pak Thamrin, dan beberapa nama lain, yang mengabdikan dirinya untuk cita-cita tinggi, saya terharu…..

Tan Ek Tjoan

Cerita ini bonusan saja. Sejak baca Madre di awal tahun 2012, saya pengen banget dateng ke toko roti Tan Ek Tjoan di bilangan Cikini. Berkali-kali dateng ke Taman Ismail Marzuki tapi tak menyempatkan diri mampir ke bangunan toko tua itu. Akhirnya, kemarin saya niatkan untuk jalan dari Monas – Gunung Agung – Tan Ek Tjoan πŸ˜€ :D. Memasuki bangunan itu, aromanya memang beda, jadi kayak dolan ke rumah Mbah Buyut. Etalasenya sudah setengah kosong. Saya hanya membeli roti keju (yang rasanya enaaaaaak banget) plus roti gambang yang memang klasik.

tan ek tjoan

Ada kursi-kursi dan meja untuk ngopi-ngopi cantik. Saya jadi pengen ke sana lagi. πŸ˜€ πŸ˜€ Saya menuntaskan jalan-jajan kemarin dengan makan buah di pelataran TIM. πŸ™‚

Hati saya jauh lebih ringan dari sebelumnya, terima kasih, Tuhan… πŸ™‚ πŸ™‚

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

15 thoughts on “Berenang di Monas #2 – Wrap Up

      1. kalo weekend bisa aja aku mblayang bentar ke jakarta mba’Yu… Tapi tidak adalam bulan ini, sudah fully booked sm pakne tole & tole-ne tiap weekend nya… πŸ˜€

  1. Jadi ingat, kata sepupuku kalau ingin merasakan lari senggol alias lari sambil senggol-senggolan, datanglah ke Monas di Minggu pagi … betul nggak sih πŸ˜€

  2. duluuuu waktu dharma wisata, kayaknya pernah mampir cuma lihat patung diponegoro, dan dongak menduwur wuiiiih emas gede nemen… jakarta sugih
    ndelok ngisor, gepeng bersliweran… duluuuuuu
    sekarang…. rakyate wus makmur ya?
    monas saiki kok adoh bangeet ya… tikete pitungatus ewu .. 😦

    #eh dudu monas sing adoh, jebule aku sing adoh.. huffhh

    potret yang cantik, judule marake mikir monas klelep πŸ˜†

    1. Hikikik,,, pitungatus ewu saking pundi Mbah? Aku ki jan-jane pengeeeen banget kepanggih njenengan πŸ™‚ hehehe…

      Sing sugih dudu Jakarta Mbah, emase sumbangan saudagar Aceh πŸ˜€

      rakyate makmur? pripun nggih? πŸ˜†

      Hahahaha,,, nek judule marakke mikir kan njuk terus diwaos.. matur nuwun komentaripun.. πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s