Posted in Hidup, Hijau, Lesson Learnt, Main-main

Rancabali Ciwidey (2) – Episode Pamitan

Mie Instan dan Cara Kami Masak 😀

Saat perjalanan pulang dari Saung Gawir, kami berempat mampir ke Alfam*rt terdekat. Beli stok kopi dan makanan, karena di penginapan disediakan kompor, dan tak ada bahan makanan lain yang “menggoda” maka pilihannya adalah mie instan, mie instan, mie instan, plus telur, dan saos. *Anak kost banget ya* 😆

Dan, benar saja, malam hari setelah sesi obral obrol, we made mie rebus dan mie ndhog. Dengan peralatan masak yang seadanya, ditambah songongnya kami tak membeli sabun cuci piring,, akhirnya I let my bath soap to be dish soap 😆 :lol:. Sangat bersyukur bahwa teman-teman saya gak keracunan karenanya 😀 😀

Pagi jelang agenda jalan-jalan, karena bahan makanan yang kami punya hanya mie instan dan telur tiga butir, akhirnya saya dan Diah memaksakan diri untuk memasak telur dadar dengan bumbu dari mie instan, dan mie goreng ublek2. Untungnya ada penjual nasi kuning yang turut menyemarakkan sarapan kami. 😀 😆

Kolam Air Panas

Beruntung. Lokasi tempat saya dan teman-teman menginap sangat dekat dengan kolam. At very first time saya lihat calon penginapan di situs resmi PTPN, saya sumringah karena ada gambar kolam renangnya. Dan benar saja, kolam air panas melambai-lambai kepada saya saat pertama kali saya masuk gerbang penginapannya.

saya ciblungan di kolam itu
saya ciblungan di kolam itu

Saya tak menyia-nyiakan kesempatan, seteah shalat Isya’, ditemani gerimis dan kabut, saya nyebur ke kolam. Sayangnya, saking dinginnya, tak ada satupun yang mengabadikan polah saya di kolam. Diah sempat nemenin saya sebentar, tapi kemudian panggilan dari cintanya menyudahinya menemani saya… (Diah ditelpon calonnya, Yossi juga 😆 ) 🙂

Ada Bapak-Bapak dan adik-adik dari Villa Kidang Kencana yang nanya “Nggak dingin ya, Teh?”.. Ya ampyuun Pak, menurut panjenengan?? :lol:. Memang sih, saat berenang rasanya anget, begitu mentas langsung dingin menyergap. Sampai bersin dan menggigil saat nungguin antrian mandi, di teras penginapan.

Pamitan

Setelah saya mandi dan bebersih. Berempat, kami berkumpul di ruang TV. Saya sebenarnya nggak suka bagian ini. Tapi yaaa,,, akhirnya terjadi juga. Dibuka oleh tour leader yang kemudian mengumumkan secara resmi rencana kepindahan saya dari Jakarta, tentang konspirasi sampai akhirnya terwujud juga trip ke Bandung, tentang banyak hal.

Tiba giliran saya untuk ngomong. Oh, God. Saya kamisosolen. Sempat terdiam lama, hanya bilang “Mmm… mmmmm….”. Lha gimana, rasanya sesak…. Akhirnya, saya bilang ke mereka bahwa merekalah keluarga saya saat saya di Jakarta. Saya juga berharap, komunikasi bakal tetap ada saat saya nanti jauh. Dan saya siap diajak nge-trip lagi 😆

Yang paling bikin saya netesin eluh adalah saat Diah ngomong, baru beberapa kali ketemu dan sudah kehilangan teman wadon untuk dolan-dolan. I said, akan ada yang lain. Karena memang begitulah adanya. Saya pulang, dan ada lagi teman kami yang mulai menetap di Jakarta. Saya seneng… saya berhasil untuk ndak mewek mingseg2… Ahyeeeey 😀 😀

This is not farewell, this is very well…

Itu yang saya ucapkan sesaat setelah pesan kesan *haiiish* dari saya dan teman-teman tentang pamitan saya. Yeachofficially.. saya pamitan bali ndesa mbangun ndesa. 🙂 😥

Thank you for everything we share, I’m sorry for all mistakes I’ve made.. I love you all dear… 😥  🙂 🙂

All photos taken by me, Yossi, Diah, and Faizal using Faizal’s camera

bersambung

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

9 thoughts on “Rancabali Ciwidey (2) – Episode Pamitan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s