Posted in Hidup, Lesson Learnt, Main-main

Usia

Ini cerita tentang bocah tua nakal yang selamat dari perjodohan membabi buta πŸ˜€ πŸ˜†

Matchmaking gemblung

Ibu Jual Troso : “Mbak, aku seneng lihat Mbak, energik. Rumahnya mana Mbak? Β Masih single opo uwis ono sing ndedeki? (masing single apa sudah ada yang nungguin?)

Saya: “Matur nuwun, Bu. Saya Batealit, Mindahan. Tasih single,Β Bu”

Ibu Jual Troso: Aku nduwe anak lanang Mbak, sesuk tak kenalke (Aku punya anak laki-laki Mbak, besok aku kenalin).

Saya: ?!#$$%^^&*(!!@@????????? *tampang gak suka tapi terpaksa disenyum-senyumkan*

Ibu Jual Troso keesokan harinya dan keesokan lusanya membawaΒ lelaki muda berbaju troso dan membawa buku yang ternyata anaknya.

Ibu Jual Troso: “Ini anakku Mbak”. “Nang, cepet kenalan sama Mbak Nita”.

Saya tersenyum dan menyebut nama “Yunita” dan berlalu mondar-mandir. Jujur, saya ndak greng

Ibu Jual Troso : “Lulusan SMA tahun pinten, Mbak?”

Saya : “2005”

Ibu jual Troso : “Lhooo lha sakniki usia pinten? (Sekarang usia berapa?)

Saya : “27, Bu” sambil tertawa

Ibu Jual Troso : “Lhoo laaah, lha KenangkuΒ lagi 23 umure (Lhoo laaah, anakku baru usia 23).” Dan Ibu itu sedikit demi sedikit mengendurkan serangannya kepada saya πŸ™‚

Usia saya ternyata menyelamatkan saya dari perjodohan yang membabi bunting. Hahahahaha πŸ˜† πŸ˜€ πŸ˜€

Suwun Gusti πŸ˜€

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

18 thoughts on “Usia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s