Posted in Hidup, Main-main

Madre: Cinta dalam Stoples

Warning: ini bukan review lhoo 🙂

sumber

Sebulan yang lalu saya nonton film Madre. Dan baru hari ini bisa menikmati waktu yang luang untuk nulis apa yang saya lihat, dengar, rasakan dari film ini. 🙂

Let’s see…. aku rada was2 sama Madre 😀

Ini jawaban saya kepada seorang sahabat yang pengen nonton Laura Basuki-nya. Kekhawatiran saya untuk nonton film adaptasi dari novelet karya Dee karena  saya takut kecewa. Takut apa yang saya imajikan dari membaca noveletnya dirusak oleh filmnya. Tapi demi menikmati hari-hari terakhir saya di Jakarta (waktu itu), saya mengamini undangan teman dan teman baru saya 😀


Saya duduk di bangku bioskop beberapa menit setelah film mulai. Alasan klasik karena hujan dan saya telat 😆 Saya melewatkan adegan Tansen kebingungan di makam. Meski saya melihat gimbalnya Vino G Bastian aneh, tapi aktingnya cukup memikat saya.

Tansen di film arahan Benny Setiawan ini ditampilkan sedikit labil meski berusaha menerjemahkan kebebasannya sebagai Sang Pencari Ombak tapi sedikit miss dengan menjadikannya plin-plan. 😆 Saya kesengsem berat sama logat Pak Hadi (Didi Petet) dengan akhiran heu’eh tiap akhir kalimat. Meilan, yang diperankan Laura Basuki bisa berakting manis, chemistry yang dibangung dengan lawan mainnya, cukuplah untuk membuat saya menikmati film ini.

Meski memindahkan setting cerita dari Jakarta ke Bandung film ini saya rasa justru tampil lebih klasik. Disemarakkan dengan pemain-pemain sepuh seperti Didi Petet, Titi Qadarsih, yang lebih luwes mamainkan perannya membuat film yang diilhami dari adonan biang dalam stoples ini menjadi hangat untuk saya tonton.

Saya ngerasa seneng saat melihat adegan demi adegan yang meski tak sama percis dengan noveletnya. Dan uniknya, saya sama sekali gak nangis, meski suara Afgan serta lirik lagu yang ngisi saat Tansen berkonflik dengan Meilan cukup jerooo 😆 karena saya merasa yakin endingnya happy *dikeplak* 😀 😆

Yang mengejutkan adalah saat beberapa improvisasi dilakukan dalam penulisan skenario dan eksekusi film, serta hasilnya menurut saya sangat haluuus. Saya sama sekali gak kecewa nonton film ini. Ditambah lagi,, Tansen dan Mei sama-sama blogger yang dari sana mereka bertemu. 😆 *kepengen kayak gitu* hahahahaha. Mereka sama-sama menyadari ada yang tak biasa, tapi membiarkan rasa mereka mengalir begitu saja.

Filosofi hidup khasnya Dee yang coba dimunculkan juga menurut saya tak terkesan menggurui. Saya suka tentang makna rumah yang menurut Madre adalah tempat dimana kita benar-benar dibutuhkan. Juga saat Tansen keukeuh tidak mau menjual Madre. Unik, bagaimana adonan dalam sebuah stoples dapat menjadi tali pengikat juga pencetus konflik.

Kalau tagline filmnya Madre: Dari Roti Turun ke Hati, menurut saya, ini adalah tentang Cinta dalam Sebuah Stoples yang mampu menularkan kepada orang-orang di sekitarnya. Madre sempurna sebagai penutup petualangan saya nonton di Jakarta, karena gak tahu kapan lagi bakal nonton di kota itu 🙂

Jadi pengen dikasih kaastengel satu stoples trus diajak nonton lagi *dikepruk rame-rame* 😆 😆

Selamat sore semuanya, saya siap-siap pulang dulu.

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

5 thoughts on “Madre: Cinta dalam Stoples

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s