Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt, Renungan

Luapan Lupa

Gadis di depanku seolah menghajar papan ketik netbook-nya. Keningnya berkerut seakan isi dalam otak dan rasanya yang memaksa kulit bagian keningnya melipat-lipat. Mataku yang sejenak menatapnya, beradu dengan matanya yang menyadari dia tak sendiri di ruangan ini. Demi melihat mata dan muka bingungku, bibirnya mengulas senyum. Terpaksa.

“Kenapa toh Cah Ayu? Kok rasanya hari ini tak seceria sebelumnya?” Bisikku berusaha membuka obrolan. Pekerjaan di hadapanku kugeser, sehingga dialah fokus utamaku.

Matanya melihat sekeliling ruangan kami yang memang tak luas. Dia tersenyum lagi, mengendikkan bahu dan berkata “Tidak apa-apa, Mbak.”

“Yauwis kalau memang gak ada apa-apa.” Lanjutku pura-pura mengambil kembali tumpukan pekerjaan, berkas-berkas acak-acakan yang harus kurapikan. Aku yakin, tak lama, gadis ini akan membuka suara. Aku salah, sampai mendekati jam pulang, gadis itu tetap diam.

Aku berkemas, gadis itu juga. Dia mendekatiku, menatapku. Dan mengucap.

“Apa rasanya diterpa gelombang lupa?”

“Gelombang lupa?” tanyaku kembali.

“Iya, aku berusaha untuk mengingat beberapa hal yang sudah lalu. Tapi sulit, Mbak.”

“Apa itu yang membuat netbookmu menjerit sesiangan ini karena kamu hajar sedemikian rupa?” ujarku mencoba mencandainya. Dia tersenyum. Kemudian mengangguk. “Lupa tentang apa?” sambungku.

“Mengingatnya. Dan semua yang bersinggungan dengannya. Berharap luapan kenangan itu meleburku.”

Aku tak tahu pasti siapa “nya” yang dia maksud.

“Aku gagal.. mengingatnya tak sesyahdu dulu Mbak. Dan aku bingung harus diapakan biar ingat.” Ujarnya memerkan deretan giginya yang putih.

Aku tersenyum, sambil mengajaknya keluar dari ruangan kami. Pulang.

“Kamu bosan dengannya?

“Tidak juga, Mbak. Entah.. aku tak belum tahu pasti.”

“Apa rasamu?”

“Seperti ini saja, tadi geram, gusar, marah pada diriku sendiri. Tapi jika ini memang luapan lupa, aku akan menerimanya. Meski berat, butuh air mata, dan berdarah-darah. Ahh.. saya lebay.” Dia tersenyum. Tak lama ponselnya berbunyi. Diam sejenak, dan dengan suaranya yang mantap dia menjawab suara dari seberang sana.

Aku berhenti. Entah..

Karena bosan telah menghampiri rindu atau luapan lupa telah mengungkungku. Terima kasih.

Sumber

Dia kuat, bahkan dalam hitungan hari dia mampu mengalahkan ragunya.

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s