Posted in Hidup, Renungan

Menghargai “Bentuk” Manusia

Awal

Awalnya saya rasa sebenarnya tidak perlu saya menulis ini. Tapi kemudian saya berpikir ulang. Saya perlu menuliskan ini, setidaknya agar orang-orang di lingkaran saya tidak melakukan hal-hal mencacat bentuk temannya, seperti apapun dia. Juga agar orang-orang yang senasib dengan saya dapat lebih berbahagia dan menghargai tubuhnya. Baiklah,, agak panjang memang.. bersabar ya bacanya (kepedean ada yang baca) 😆 :mrgreen:

612c14df1b065b4f82d35b075f5de8fc
Gambar dari sini

Sejak saya kecil dan memiliki bentuk badan yang lebih, saya sering diejek dan ditertawakan. Teman-teman tidak jarang yang bercanda dengan menggunakan nama obyek (yang diasosiasikan badan saya), seperti “Awas ana slender lewat (Awas ada silinder -kendaraan yang dipakai untuk menghaluskan aspal- lewat)”.. “Ati-ati Nita lewat, ogreg (Hati-hati Nita lewat.. bergetar),” dan lain sebagainya.

Awal mendapat perlakuan dari teman TK dan SD seperti itu rasanya sedih, saya sering merutuki diri mengapa saya tumbuh seperti itu. Saat itu juga saya belum tahu bahwa bentuk badan berlebih bisa juga karena kesalahan dalam pola makan.

Kemudian saya melanjutkan sekolah menengah pertama di sekolah khusus putri. Saya merasa lebih diterima. Mereka menghargai saya dari pemikiran, prestasi, personal, dan lain sebagainya. Dan kemudian saya sadar, “body lebih” saya bermanfaat. Saya tipe orang yang walaupun body berlebih tak kemudian menjadikan saya males bergerak. Di sekolah dan di pesantren saya, saya dan beberapa teman senasib lainnya menjadi andalan saat kebersihan. Ya.. kami menjadi tim angkat junjung meja  🙂   😆

Usia SMA saya bersekolah di SMA negeri yang notabene campur, laki-laki dan perempuan. Kekonyolan saya saat itu adalah saya memposisikan diri saya seperti saat masih di sekolah khusus putri, yang angkat junjung kursi saat kebersihan. Dan ini menjadikan saya kembali menjadi bahan guyonan. “Nyit-nyit (demikian mereka memanggil saya) kaya Lisa Rumbewas ya..setrong :lol:. Tahu kan, Lisa Rumbewas? Yap, peraih Perak Olimpiade Sydney 2000  :D.

Di SMA, saya bertemu dengan sahabat-sahabat terbaik, orang-orang pilihan yang memang tidak terus-terusan mencela fisik saya. They admit me as a friend, with complete package… not because my body  😛 

Kehidupan asmara? Hampir tak ada.. Saya tahu diri saya siapa saat itu 😀 😀

This is the Real Life, Hon

Saya kuliah di kampus petani Pertanian. Dan singkatnya di sana karena bertemu dengan berbagai karakter dari berbagai tempat yang semakin menempa saya. Bertemu dengan teman yang senasib dengan saya dan diskusi-diskusi kami menjadikan kami semakin kuat di tengah gempuran candaan sarkas, guyonan murahan tentang body kami dll.

Kemudian saya bekerja dan bergabung bersama orang-orang hebat di ASBINDO. Tak ada satupun dari mereka yang menggunjing body saya. Mereka melihat saya dari kinerja, kepribadian, dan persahabatan kami. Hidup di Jakarta yang katanya kejam, tidak saya rasakan karena saya menemukan kenyamanan. Bertemu dengan teman-teman lama yang sama sekali tidak pernah menertawakan badan saya. Saya bahagia.

neverjudge
Dari sini

Kemudian saya menikah dengan lelaki pilihan saya sendiri yang direstui oleh orang tua dan keluarga saya. Bahagia? Pastinya. Tapi… di sini saya mengatakan,, this is real life. Mengapa? Dua minggu setelah saya menikah, saya berkunjung ke tanah kelahiran suami. Di sana… saya
“dibicarakan” dengan bahasa asli daerah suami saya. Ada satu orang, saudara suami yang menerangkan: dari dulu gembrot? Saya jawab dengan mencoba tetap tersenyum. “Iya”.

Apa yang saya rasakan? Bukan lagi sedih seperti saat saya TK dan SD. Saya sakit dan marah. Saya simpan hal ini dari suami.. Sampai kemudian saya hamil, resign dari tempat kerja dan melahirkan. Saya sempat hidup beberapa bulan di kampung halaman suami. Dan gunjingan, ledekan, dan lain sebagainya saya temui lagi. Nada-nada sumbang, kenyinyiran, dan hal-hal menyesakkan saya terima. Tunggu, saya tidak menerima begitu saja. Saya protes kepada suami. Saya bilang “Kenapa mereka tidak mau menerima kondisi saya yang seperti ini?” Jawaban suami cukup simple tetapi tidak simple dijalankan: “Udah biarin aja”. Men are men.. 😆

Kemudian di tengah kesakitan saya. Saya mencoba untuk ngudarasa dengan sahabat saya, seorang perempuan tangguh, smart, dan penuh pengalaman. Satu kalimatnya yang membuat saya kembali bangkit dan berfokus pada membesarkan anak saya adalah: “Their judge shows their value. Don’t worry, Dear. Kamu lebih-lebih dibandingkan mereka, saya yakin itu.” Saya bisa berdamai. Sungguh berdamai.

Jadi Gini lho, Jeng

Tapi, belajar damai memang tak mudah. Saat saya bisa kembali bekerja, saya bekerja di kota kecil tempat kelahiran saya. Di sini saya mencoba untuk menulikan telinga. Sejak saya masuk, tidak sedikit yang membahas body saya.

Rekan kerja? Ada. Rekan dari unit lain? Banyak. 😆 Dan sapaan pagi ini sebagai pemicu saya merasa harus menulis tentang hal ini.. “Dulu Mbak hamil katanya sempat turun berat badannya, tapi kok masih gembrot?”. Dulu.. awal-awal saya bekerja saya sempat cuekin kalimat-kalimatnya yang menyinggung badan saya.

Oke, kemarin-kemarin saya anggap dia anak kemarin sore yang memang belum memiliki banyak pengalaman berhadapan dengan orang. Tapi kali ini setelah sekian kali dan dia menjadi calon Ibu yang sedang kuliah S2, saya rasa saya pengen tegur dia. “Tidak semua orang terlahir dan besar dengan pola yang sama seperti kamu dibesarkan. Mau saya dulu sempet turun berat badan dan sekarang naik lagi, bukan berarti saya tidak pernah terpikir dan berusaha untuk kurus. Kita tidak akan pernah tahu seperti apa anak-anak kita. Dan akan kasihan jika anakmu body.nya lebih dan digunjing orang, seperti kamu gituin aku.”

Oke, yang saya lakukan ke dia itu j.a.h.a.t 😆 Biar dia tahu, saya gak suka. Dan kemudian perkara dia update status BBM yang mengarah ke saya dll, terserah.

Saya cuma ingin menegaskan bahwa mereka yang kita beri nilai, belum tentu seburuk nilai kita. Bisa jadi mereka yang kita judge jelek, gembrot, malas dll, ternyata kinerjanya lebih baik dan lebih berprestasi dibanding kita. Jadi.. hargai diri Anda dimulai dengan menjaga mulut Anda. Tak semua candaan itu bisa membuat orang tertawa, bisa jadi menjadi air mata.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk diri saya dan menjadi pengingat bagi diri saya. Semoga saya bisa menjaga mulut dan sikap saya. Aamiin.

Udah? Iya.. udah gitu aja 😀 😀 😆

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

4 thoughts on “Menghargai “Bentuk” Manusia

  1. Menarik…tapi dari saya pribadi yang pernah memperhatikan sebagian masa SD waktu itu hahahaha…. secara personal tidak pernah menilai dari fisik, ada hal yg mungkin tak dapat dilupa… sikap berjalan yg menunjukkan bahwa ybs merupakan seseorang yang menghargai waktu, enjoy, memiliki target, cerdas dan masih banyak lagi yg laennya…dan tentunya sikap yg demikian tidak dimiliki oleh kebanyakan orang….
    Dihitung2 memang ada plus minus, ya begitulah hukum alam…semua orang pasti memiliki hal yg sama….
    Demikian komen saya…salam sukses….smoga segera turun tuh berat badan hahaha….maap, becanda doang….
    Salam

    1. Bhihiks,, ternyata ya ana sing merhatikke aku ya.. hahaha mesti jaman isih kucir n dikepang hakakakak…

      Matur nuwun Senior 😀 dan saya setuju dengan njenengan.. hukum alam.. saya punya banyak kelebihan… kelebihan berat badan 😀 😆

      Siiaaap… ben tambah banter mlayune ya nek bobote medhun 😆 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s