Posted in Uncategorized

Karena Pendidikan Pertama Datangnya dari Rumah

Tugas minggu ke-tiga di Institut Ibu Profesional ini bikin baper tapi ga boleg baper. Nah looo… tentang mencintai pasangan, pemetaan potensi diri, pasangan, anak, lingkungan untuk membangun peradaban dari rumah.

Saya selalu memperbarui cinta saya kepada suami saya setiap hari. Bukan berarti setiap hari usang, tapi saya walau kadang sebel karena selalu jadi tukang pungut baju kotor 🙂 😀 saya mencintainya sebagai suami dan Bapaknya Meji.

Saya selalu ingat saat pertama kami saling kenal melalui Mamanya. Ya, cerita kami hampir mirip FTV di mana saya ketemu dengan seorang Ibu yang butuh bantuan, saya tolong, Ibu itu cocok dengan saya. Kami saling kenal. Dan singkat cerita, jadilah sekarang kami bertiga. Saya, suami, dan Majida.

Mas Dhana bukan orang yang romantis, tapi dia orang yang lembut dalam diamnya. Dia juga bukan orang yang sering menyanjung saya.. meskipun jujur,, saya pengen dibilang cantik sama dia ahahaha… Tapi saya tahu di balik tajam matanya,, dia berterima kasih saya mau tidur malam untuk ajak main Majida. Senyum tipisnya pengganti ucap syukur saat saya mau katakan tidak untuk lembur Sabtu dan Ahad. Atau kalaupun kepepet saya harus ke kampus… Mas Dhana dampingi saya.. ngasuh Majida. 😁

Jadi,, meskipun suami saya tipe pendiam, tak romantis, kadang ngeselin saking diamnya, tapi dia tipe laki banget.

Surat Cinta 🙂

Kemarin saya tulis surat,, and as predicted before: saat terima surat, jawabannya

“Opo toh, Dek”

Dulu saya suka buat catatan harian untuk kami, jadi ada yang bagian dibaca Mas Dhana dan saya baca. Tapi kenyataannya saya ndak pernah dapet jatah baca wong ga pernah ditulis sama suami ahahahaha..

Majida dan Bapak

Tapi saya minta dia baca.. ekspresinya.. mringas mringis senyum. Saya bilang padanya.

Terima kasih sudah mengimami selama tiga tahun dengan ilmu, dan iman, membimbing dengan sabar dan mengasuh dengan kasih.

At the end, He just hug me and kiss my forehead. Then malamnya setelah tarawih… saya dan Meji diajak jalan-jalan makan kerang dan bercanda ria. 😀 😀

Potensi Majida

Anak saya baru satu, Majida Yusrina namanya. Usia dua bulan kata pertama yang diucapkan adalah “Apak” ahahaha sampai kami keluarga besar kalau manggil Mas Dhana: Apak :mrgreen:

Alhamdulillah dia juga tumbuh menjadi anak yang sehat, jarang sakit. Saat terkena common cold juga pemulihannya bisa cepat. Efek doa dan Food Combining kali yaa.. hahahaha 🙂

Majida ini anak yang tidak bisa diam. Sejak bisa berjalan dia hanya bisa berhenti berjalan saat menyusu, nonton “If you happy and you know it clap your hand” eh ga juga dhing.. malah joget2 yang ada ahahaha.. dan tidur.

Cat lover

Motoriknya cukup bagus, verbalnya juga mulai terlihat. Merangkai kalimat sederhana dengan 3-4 kata sudah mulai bisa.

Meji (we used to call her like this) daya serap juga daya ingatnya baik. Sehingga saya dan suami sepakat, tidak bicara rahasia di depannya atau setidaknya sampai dia tidur.

Dia juga lovely child, mudah beradaptasi di lingkungan baru. Dan yang paling saya suka: dia berbinar-binar saat kami ajak jalan bertiga. Meski cuma jalan-jalan ke lapangan samping rumah. Jiwanya happy bersama orang tuanya.

Semoga potensi Meji dapat berkembang baik dan mendatangkan manfaat

Potensi Saya… 

Saya perempuan yang sejak kecil diajarkan multitasking karena menjadi kakak dari 4 adik di usia yang masih kecil. Jadi terbiasa dengan tanggung jawab. Kemampuan komunikasi? Yaa cukuplah untuk membangun relasi dan juga berbicara dengan suami yang pendiam 🙂

Saya sejak beberapa tahun lalu juga memilih jalur untuk hidup puasa. Menahan diri. Jadi berusaha meminimalisir crash di rumah, dengan suami dan keluarga besar.

Fisik saya cukup seterong. 😀 sehingga melayani Meji yang kadang tidur dini hari diberi kekuatan sama Allah.

Sifat humoris saya membuat orang2 di dekat saya nyaman bersama saya. Eh iya gitu gak sih? 🙂 😀

Allah menciptakan saya untuk bersinergi bersama suami juga Majida dan keluarga untuk melengkapi dan menjadi baik dari hari ke hari. Semoga…

Bersyukur Tinggal di Pusat Kecamatan

Saya bersyukur tinggal di pusat kecamatan. Bersebelahan dengan Masjid. Jadi Majida terbiasa dengan jamaah dan juga shalawat atau puji2an dari masjid. Suami juga semenjak pindah ke Jepara jadi ikut kumpulan ngajinya Bapak2..

Sekolah2 juga banyak di sini. Meskipun banyak sekolah, termasuk PAUD, saya tidak memaksa Majida untuk sekolah.. kalau pas dia lihat anak2 berangkat sekolah dan pengen ya kami antar. Meji suka main, Meji suka ngobrol dengan gayanya bersama anak-anak.

Yang menjadi tantangan saya dan suami justru datang dari dalam rumah, perbedaan cara pandang dalam pengasuhan, perbedaan gaya asuh. sementara kami bekerja, Majida bersama Eyangnya.. Tapi kami kemudian bersyukur karena perlahan melatih kami untuk menyampaikan dengan hikmah kepada keluarga, bagaimana visi kami mengasuh dan mendidik Meji..

Ah.. sampai di sini saya nangis.. terlalu banyak yang tidak tertulis. Tapi in syaa Allah kami mulai menyadari,, tidak ada gunanya mengeluh tentang tantangan dan hambatan.. seperti kata suami

Jangan pernah salahkan orang lain saat kita kalut, berjalanlah ke dalam. Kesalahan bisa ada dari diri kita.

Bismillaaaah… semoga niat kami menjadi keluarga yang diberkahi diijabah oleh Allah aamiin 🙂

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

One thought on “Karena Pendidikan Pertama Datangnya dari Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s