Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt, Renungan

Misi dalam Hidup: Mendidik Anak dengan Fitrah

Alhamdulillaah bertemu lagi dengan weekend. Weekend adalah waktu saya untuk menuliskan dan mengumpulkan tugas kuliah.  Ahahaha mengapa harus weekend? Karena saat weekend-lah yang saya plot untuk nulis yang (agak) panjang dari hasil kontemplasi hari Selasa-Jumat. Halah.. aahahahah.. pencitraan.

Pekan ini, pekan ke empat di Institut Ibu Profesional, saya belajar tentang mendidik dengan fitrah. Membaca dan mendengar materinya,,, saya tersadar bahwa seharusnya kurikulum memang seperti ini.. yang menggugah kesadaran.  *manggut-manggut sendiri 😀

Saya tersadar bahwa setiap pekan ada hal-hal yang ketika disambungkan akan menjadi mata rantai dan tidak bisa dipisahkan. Mata rantai itu yang akan menuntun saya dan keluarga menjadi insan dan keluarga yang lebih baik dari sebelumnya pastinya.. Aamiin

Dan tugas pekan ke-empat benar-benar membutuhkan kontemplasi. Perenungan yang dalam,, biasanya awal diberi Nice Homework (NHW) saya terbayang apa yang akan saya tulis… pekan ini? Bahkan sampai hari Kamis saya masih meraba.. Bismillaaah ini dia tugasnyaaa…

Tentang Misi Hidup

Dari NHW #3 yang lalu, saya mencoba memetakan misi yang dititipkan Allah kepada hidup saya. Saya senang dan menikmati ketika berada bersama banyak orang dan mereka bahagia dengan adanya saya. Terlebih Ibu saya, yang memang sejak meninggalnya Bapak, saya selalu menjadi teman ceritanya.  Saya merasa dan menyadari bahwa keberadaan saya di lingkungan pekerjaan saya membantu akselerasi pekerjaan, saya juga merasa dan menyadari bahwa saya senang dengan anak-anak memperhatikan tumbuh kembang dan pencapaian pendidikannya.

Pun demikian anak-anak menyukai saya, baik anak sendiri, anak saudara, anak teman, sampai anak-anak yang baru saya temui tak terkecuali anak kucing :D. Hal yang membuat semangat saya naik berkali-kali lipat adalah saat saya bermain bersama anak dan mempersiapkan sebuah project baik di rumah ataupun di lingkup pekerjaan.

Dari perenungan di atas, saya menyimpulkan bahwa saya dipilihkan jalan oleh Allah untuk menjadi ibu yang bekerja di ranah public namun tetap berusaha untuk memberikan kasih, perhatian, dan kebutuhan jiwa anak-anak saya.

Sehingga saya berusaha memahami bahwa misi yang ditiupkan kepada saya adalah menjadi ibu sumber keceriaan dan kebahagiaan keluarga juga lingkungan sekitar apapun kondisi yang saya jalani.

Dari misi ini, bidang yang akan menjadi focus saya adalah: aktualisasi diri dan ilmu keluarga termasuk di dalamnya psikologi keluarga. Dan saya memiliki peran sebagai teman bermain anak-anak dan teman cerita (konselor) bagi lingkungan saya yang lebih luas.

Cocokkah dengan ilmu yang ingin saya pelajari sesuai dengan tugas di minggu pertama ? Ya, dan saya tetap ingin mendalami ilmu komunikasi empati. Hal ini memahami suatu ilmu keluarga, pengasuhan itu bisa dilakukan otodidak, tetapi menyampaikan kepada orang yang belum satu visi tentunya butuh trik khusus,, empati jalannya.

*duh kedawan ahahahahaha

Tentang Checklist Harian 

Yap, pekan kedua saya membuat checklist yang saya harap bisa saya laksanakan untuk mendukung pencapaian saya. Baik sebagai istri, ibu, anak, dan sebagai karyawan. Pelaksanaan? So..so.. saya masih haru terus  belajar konsisten. Untuk pengembangan diri dan kewajiban-kewajiban sebagai anak dan ibu serta istri sudah dilaksanakan. Yang terberat adalah: LARI PAAAGIIIII…ahahahaa baru terlaksana sekali seminggu padahal harusnya TIGA 😀 😀 😀 :mrgreen:

Waktu pelaksanaan checklist juga sudah dibuat rigid,, jam berapa melaksanakan apa… tapi.. kadang distraksi di luar kendali yang kadang membuat jadwal agak keteter. 😀 😀 *excuse lagiiiii selanjutnya semoga tidak. AAMIIIN…

Ilmu dan Knowledge serta Skill yang harus dimiliki

Untuk menjadi teman main dan teman cerita seperti yang saya tulis sebagai misi hidup saya. saya harus menguasai ilmu-ilmu berikut:

  • Ilmu Parenting: ilmu ini meliputi tumbuh kembang anak, psikologi dewasa muda, pengetahuan tentang kesehatan. Titik kritis dalam pengasuhan menurut saya adalah saat anak beranjak menjadi dewasa muda. Di sini saya harus khatam ilmu sehingga bisa berperan sebagai teman main dan teman cerita anak saya sampai kapanpun.
  • Ilmu Manajemen keluarga: meliputi komunikasi dengan anak dan pasangan, Fiqh pernikahan, fiqh keluarga, dan manajemen keuangan
  • Ilmu Komunikasi: ini yang menjadi point penting dalam keinginan mewujudkan peran saya. Ilmu ini harus dipelajari seiring dengan belajar kedua ilmu sebelumnya. Seperti kalau di kurikulum pendidikan tingi ada Komunikasi sebagai orang tua, komunikasi dengan keluarga, dan komunikasi dengan masyarakat. Tentunta semua berbasis Empati.

The Milestone 

Sampai kapan saya harus belajar, kapan saya mulai mantap untuk menjalani peran sebagai teman bicara?

Usia saat ini saya anggap sebagai pijakan pertama saya, di mana saya memahami terdapat banyak ilmu dan berada ditengah orang-orang dengan visi yang sama..

Step 0 : saat ini,, mendata jenis ilmu dan dari mana saya mendapatkan ilmu tersebut

Step 1 : 2017-2018

Menguasai ilmu parenting Tumbuh kembang anak dan ilmu keluarga: Fiqh Munakahat, Fiqh Keluarga dan Menguasai Komunikasi dengan anak serta pasangan. Mengikuti seminar parenting setidaknya 1 kali dalam 1 tahun.  Menginisiasi diri untuk menjai pendamping,, saya memiliki 2 keponakan yang Bapaknya meninggal dalam usia muda. Isri sepupu saya juga akan menjadi prioritas saya untuk melatih penyampaian ilmu pengasuhan dan komunikasi.

Step 2: 2018-2019 

Menguasai dan mampu menyampaikan ilmu manajemen keuangan keluarga, psikologi dewasa muda, dan komunikasi keluarga. Memantapkan diri memilih untuk tetap bekerja di ranah public atau bersama anak.

Step 3 : 2019-2020

Mampu mendampingi Meji yang mulai masuk usia sekolah. Menjai teman cerita bagi gurunya (jika memilihi sekolah formal), dan juga orang tua teman-teman Meji kelak.

Step 4: 2020-2022 

Mengkhatamkan ilmu komunikasi masarakat dan mulai syiar kepada paa ibu di sekitar bbaik yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga atau Ibu yang bekerja di ranah public untuk bersama-sama membangun keluarga yang berbasis Quran dan sunnah.

Terlalu utopiskah langkah saya? Mungkin iya,, tapi ini adalah hal yang saya yakini bisa menuntun saya. Bismilllaah…. Ramadhan 15 nyuwun pangestu Allahu Rabbi… 😀

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

One thought on “Misi dalam Hidup: Mendidik Anak dengan Fitrah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s