Posted in Institut Ibu Profesional

Belajar Kecewa: Ban Sepeda Lepas

Sehari setelah Majida beli sepeda, keluarga besar Sahli (keluarga dari Mbah Utinya Majida) mengadakan buka puasa bersama di rumah Mbah Buyut. Rumah Mbah Buyut hanya terpisah pintu dengan rumah Mbah Uti.. jadi seolah dua rumah jadi satu. 😀 Rame dan anget.

Sore, semua saudara yang dekat sudah berdatangan. Lengkap dengan anak, istri, dan suami masing-masing. Kemriyek. Majida waktu itu sudah tidur karena ya… siklus tidur yang belum kembali normal.

Saya membantu menyiapkan makanan, ta’jil, dan minuman untuk berbuka.. Anak-anak berlarian di ruang tamu. Yang tidak saya sadari adalah 3 keponakan laki-laki menaiki sepeda Majida. Satu juga yang tidak saya sadari, ketiganya kemudian tidak bermain lagi di rumah Mbah Uti dan memilih bermain di tempat Mbah Buyut.

Sampai setelah Majida bangun dan beberapa anggota keluarga sudah pulang. Majida seperti kemarin, bangun tidur yang dicari sepedanya.. Saat menaiki sepeda, saya baru sadar kalau roda sepeda belakang (roda kecil penyangga) agak melenceng dari tempatnya.. dan sekian detik itu juga Majida jatuh.

“Aku kaget, Ibuk” katanya sambil bilang kalau deg-degan.

“Yaaah,, sepedanya rodanya rusak, Mej. Ngglindhing lepas rodanya.” kata saya sambil menunjuk roda kecil belakang yang sudah tidak pada tempatnya. Wajah Majida berubah.

“Rusak, Bu?” tanyanya.

“Rusak sedikit, Mej. Masih bisa diperbaiki. Besok kita beli roda yang lebih kokoh ya.” ucap saya. Kemudian Majida menuntun sepedanya ke kamar dan berkali-kali mengatakan.

“Sepedanya rusak, Majida sedih.”

Saya kemudian menyusulnya ke kamar. Saya pangku Majida kemudian saya tanya apa yang dirasakannya. Majida bilang tidak bisa naik sepeda. Majida juga bilang sedih.

“HP Ibu, sepeda Majida bisa rusak. Tapi bukan berarti trus tidak bisa dipakai. Kita bisa cari rodanya, dan sepeda Majida bisa dinaiki lagi. Kita keliling-keliling lapangan lagi, nanti. Besok kita beli roda sepeda dulu ya.. Yuk senyum. Ditungguin Mbak Fafa untuk main tuh.” Ucap saya menghiburnya dan meyakinkan semua akan baik-baik saja.

“Majida naik sepeda lagi, besok, Bu?” tanyanya.
“Iya, besok.” Jawab saya yang kemudian disusul dengan merosotnya Majida dari pangkuan saya berlari menyusul Fafa, saudaranya.

Malamnya, saya mengajarkan kepada Majida agar meminta izin dulu kepada siapapun kalau ingin meminjam mainan. Semoga Majida belajar banyak dari rasa kecewanya.

Advertisements

Author:

Chocolate and coffee lover who love to smile and ngangsu kawruh.

2 thoughts on “Belajar Kecewa: Ban Sepeda Lepas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s