Posted in Hidup, Renungan

Saat Meji “Jauh”

Hari ini saya merasa Majida “jauh” dari saya. Bukan dalam arti jarak, tetapi lebih kepada perasaan. Saya tahu, saya belum menjadi Ibu sempurna yang setiap saat ada untuk Majida 🙂

Dan tangisan pilunya sambil memanggil Buliknya dengan sebutan Mama adalah hal yang mengiris hati.

Siapa yang memulai panggilan itu? Entah, yyang jelas bukan saya. Saya pun tidak bisa langsung melarang karena saya mencoba merasainya yang pastinya ingin dipanggil  Mama sambil menunggu datangnya amanah.

Tapi jujur, saya sedih.. saya merasa tidak dibutuhkan oleh anak saya.. 😥 Mungkin Gusti Allah memberi saya hikmah agar bisa lebih  profesional sebagai Ibu yang juga pekerja.

Ndhuk, membersamaimu selepas kerja adalah hal yang paling Ibu tunggu.. pun jika saat ini Ibu hanya bisa mendengar celotehmu dari tempat yang berjarak darimu..

Ingin rasanya mengulang sejenak waktu untuk meminta orang-orang di rumah ini kau panggil sebagaimana mestinya 🙂
*catatan emak galau 😭

Advertisements
Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta

Saat Majida LDR dengan Bapaknya

Hari ini, terhitung hampir tiga pekan saya dan suami alias Mas Dhana a.k.a Bapaknya Majida manjalani Long Distance Marriage (LDM). LDM ini bukan yang pertama bagi kami. Keputusan untuk LDM lagi datangnya murni dari kami berdua. Saya memahami passion Mas Dhana di bidang peternakan, memahami ketaknyamanannya berada di pekerjaan sebelumnya 😀 :mrgreen: Memahami tanggungjawabnya untuk bekerja apapun untuk memberi maisyah bagi kami, anak istrinya.

Kemudian ketika tawaran untuk kembali ke poultry farm (yang kalau kata majida ayamnya buanyaaaak ya, Bu) datang. Mas Dhana menyampaikannya dengan hati-hati. Takut saya keluar taringnya kaget :D. Tapi begitu mendengar nama perusahaan yang pernah ditinggalkan dan sekarang mencoba memberi kesempatan kepadanya lagi, saya tersenyum and I said… “This is your passion, right? Go..” meski rasanya pengen kekepin Bapake Meji untuk tidak pergi  Ahahahaha…

Bagaimana dengan Meji?

Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt, Main-main

Ke-Kacung-an Kita itu (Sepertinya) Hanya Masalah Persepsi

Apa sih, Nit?? Pagi-pagi ngomonging kacung. Ahahahaha… dibilang curcol biarin dibilang tulisan ga mutu ya ben… saya yakin ada beberapa yang mengamini tulisan ini. Setelah selesai membaca, yang mengamini ngatjuuung yaaa…. (bukan katjung yaaa) :mrgreen: 😀

Related image
Pinjem dari sini

Saya sedang iseng aja menelusuri akun dengan embel-embel kacung. Hihihihi.. yang rasanya sangat tidak sae untuk berada dalam jejaring internal tempat saya ngabdi saat ini.

kacung/ka·cung/n pesuruh, pelayan, jongos (biasanya anak laki-laki);

— golf pembawa peralatan pemain golf;
— koran penjaja koran;
— tenis pemungut bola di lapangan tenis

Continue reading “Ke-Kacung-an Kita itu (Sepertinya) Hanya Masalah Persepsi”

Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Kerja, Lesson Learnt, Uncategorized

Tentang Kemuliaan Diri dan Keluarga (NHW #7)

Materi ke-7 Kuliah di Matrikulasi Institut Ibu Profesional adalah tentang bagaimana menjadi Ibu yang bisa memersiapkan kemuliaan diri dan keluarga. Bagi saya, yang masih memilih bekerja di ranah publik :D, produktivitas saya nantinya bukan lagi diukur ansih prestasi kerja tetapi apakah amanah utama saya sebagai Ibu yaitu anak dan keluarga tertangani dengan baik? Karena hal tersebut sesuai dengan value di Ibu Profesional 🙂

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya “iya”, lanjutkan. Kalau jawabannya “tidak”, kita perlu menguatkan pilar “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “Bunda Produktif”.

Bagaimana bisa jadi ibu yang nantinya menemukan kemuliaan diri dan keluarga? Harus paham diri sendiri dulu sebelum memuliakan orang lain. Bakat bisa jadi tempat rizky mencari kita… keberkahan dalam bertindak bisa jadi rizky yang mencari kita.. soooo tugasnya adalaaaaah….

Tugas pekan ini juga termasuk unik… karena menurut saya ini semacam verifikasi dan konfirmasi dari tugas-tugas sebelumnya, tentang hal yang membuat berbinar-binar, tentang bagaimana kita memilih desain pembelajaran, tentang misi, dan tentang tugas harian.

Setelah menjalankan test uji kenal diri melalui http://www.temubakat.com akhirnya saya ketemu juga dengan hasil analisis dari Abah Rama (Dear Readers you are allowed to try this test 😉 sejauh mana kita mengenali diri kita nanti bisa juga terefleksi dari hasil test). Daaaan almost 85% cocok lhooo… ahahahaha check it out at my result yaaa… Please temen2 dekat kalian bisa mengiyakan atau menidakkan yaa… ahahahaha

Continue reading “Tentang Kemuliaan Diri dan Keluarga (NHW #7)”

Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt

Mendisain Pembelajaran untuk Saya dan Meji

 

Yeay,, it’s Saturday and it’’s time to do my Nice Homework. Pekan ke 5 di matrikulasi IIP, belajar bagaimana caranya belajar. Nah loooh… cara belajar saja ada ilmunya. Tidak asal, karena apa? Biar nempel, biar ilmunya ga kabur-kabur. Kalau sesuai dengan piramida belajar Glasser, persentase  pemahaman akan sesuatu paling besar adalah jika sesuatu hal yang baru itu dipelajari dan diajarkan. Sementara itu, Pengalaman menempati peringkat kedua.. hal ini menunjukkan bahwa learning by doing dan learning how to share terbukti ampuh dalam pemahaman ilmu.

Naaah tugas atau NiceHomework ke 5 adalah membuat desain pembelajaran. Yang unik di pekan ini adalah kita dibebaskan menafsirkan desain pembelajaran untuk siapa. Sing penting digarap. 😀

Desain Pembelajaran atau Learning Desain bertujuan untuk menemukan formula terbaik dalam mencapai perubahan perilaku dan keterampilan dari pembelajar. Pada pekan ke-4 saya telah membuat kurikulum untuk diri saya sendiri, dan pekan ini adalah menggali potensi anak serta bagaimana melejitkannya. Maka, desain pembelajaran yang sayabuat adalah untuk anak saya dan saya sebagai fasilitatornya dengan demikian secara tidak langsung juga desain pembelajaranbagi saya bagaimana belajar menjadi pendamping dan pemandu bagai anak saya.

This is it…

Desain Pembelajaran Saya dan Meji The Explorer

Continue reading “Mendisain Pembelajaran untuk Saya dan Meji”

Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt, Renungan

Misi dalam Hidup: Mendidik Anak dengan Fitrah

Alhamdulillaah bertemu lagi dengan weekend. Weekend adalah waktu saya untuk menuliskan dan mengumpulkan tugas kuliah.  Ahahaha mengapa harus weekend? Karena saat weekend-lah yang saya plot untuk nulis yang (agak) panjang dari hasil kontemplasi hari Selasa-Jumat. Halah.. aahahahah.. pencitraan.

Pekan ini, pekan ke empat di Institut Ibu Profesional, saya belajar tentang mendidik dengan fitrah. Membaca dan mendengar materinya,,, saya tersadar bahwa seharusnya kurikulum memang seperti ini.. yang menggugah kesadaran.  *manggut-manggut sendiri 😀

Saya tersadar bahwa setiap pekan ada hal-hal yang ketika disambungkan akan menjadi mata rantai dan tidak bisa dipisahkan. Mata rantai itu yang akan menuntun saya dan keluarga menjadi insan dan keluarga yang lebih baik dari sebelumnya pastinya.. Aamiin

Dan tugas pekan ke-empat benar-benar membutuhkan kontemplasi. Perenungan yang dalam,, biasanya awal diberi Nice Homework (NHW) saya terbayang apa yang akan saya tulis… pekan ini? Bahkan sampai hari Kamis saya masih meraba.. Bismillaaah ini dia tugasnyaaa…

Tentang Misi Hidup

Dari NHW #3 yang lalu, saya mencoba memetakan misi yang dititipkan Allah kepada hidup saya. Saya senang dan menikmati ketika berada bersama banyak orang dan mereka bahagia dengan adanya saya. Terlebih Ibu saya, yang memang sejak meninggalnya Bapak, saya selalu menjadi teman ceritanya.  Saya merasa dan menyadari bahwa keberadaan saya di lingkungan pekerjaan saya membantu akselerasi pekerjaan, saya juga merasa dan menyadari bahwa saya senang dengan anak-anak memperhatikan tumbuh kembang dan pencapaian pendidikannya.

Pun demikian anak-anak menyukai saya, baik anak sendiri, anak saudara, anak teman, sampai anak-anak yang baru saya temui tak terkecuali anak kucing :D. Hal yang membuat semangat saya naik berkali-kali lipat adalah saat saya bermain bersama anak dan mempersiapkan sebuah project baik di rumah ataupun di lingkup pekerjaan.

Dari perenungan di atas, saya menyimpulkan bahwa saya dipilihkan jalan oleh Allah untuk menjadi ibu yang bekerja di ranah public namun tetap berusaha untuk memberikan kasih, perhatian, dan kebutuhan jiwa anak-anak saya.

Sehingga saya berusaha memahami bahwa misi yang ditiupkan kepada saya adalah menjadi ibu sumber keceriaan dan kebahagiaan keluarga juga lingkungan sekitar apapun kondisi yang saya jalani.

Continue reading “Misi dalam Hidup: Mendidik Anak dengan Fitrah”