Posted in Hidup, Hijau, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Renungan

Centangan Keprofesionalan Nita: 30 Hari Mengejar Cinta

​Tugas pekan ini terasa saaangat berat. Saya harus meluangkan waktu di tengah kesibukan persiapan pemakaman. Menunggu dan menemani istri sepupu saya, menenangkan anak-anaknya. Dan bolak balik Bate-Mayong. Ya, sepupu saya yang juga sepersusuan dengan saa meninggal minggu ini. Alllahummaghfir lahu.

Sebagai individu berusia hampir 32 tahun, jam terbang saya menjadi istri adalah 3 tahun, sementara menjadi Ibu 2 tahun plus pengalaman ngasuh keponakan-keponakan dan sepupu yang ditinggal emaknya :mrgreen: 🙂 😀

Sebagai individu juga, pilihan yang harus saya jalani saat ini adalah dengan bekerja di ranah public, pun mesti demikian hasrat, mimpi, dan keinginan untuk bisa menjadi full time emak tetap ada dan menari-nari dalam benak. Halah.. 🙂

Untuk menjalani peran saya sebagai seorang istri dan Ibu yang juga bekerja maka profesionalisme sangat dibutuhkan. Bagaimana tetap disayang anak dan suami juga berprestasi di tempat kerja. Selama ini, flowing saja. Mengalir saja. Tapii tentu saja beberapa bahkan banyak yang miss dan tak jarang saya menjadi sedikit banyak tidak professional menjadi istri dan ibu yang bekerja ahahaha yang udah kenal aku dari dulu pasti pahaaam banget.

Soooo bersyukur pekan kedua di Matrikulasi Institut Ibu professional, tugasnya membuat checklist. Ceklisnya bukan hanya memenuhi kegiatan harian aja, tetapi harus punya tujuan yang jelas, rentang waktu yang pasti, sehingga bias dilihat ketercapaiannya.

And this is it!

“Centangan Keprofesionalan Nita”

Continue reading “Centangan Keprofesionalan Nita: 30 Hari Mengejar Cinta”

Posted in Hidup, Hijau, Kata Orang ini Cinta

Mimpi Itu Masih Ada..

Saya pernah punya mimpi untuk tinggal di tanah kelahiran saya. Punya sepetak lahan yang bisa saya tanami buah dan sayur, syukur bisa bikin usaha dari sana. Tinggal bersama keluarga kecil saya di sebuah rumah kecil yang nyaman dan damai. Setelah sebelumnya menikah dengan lelaki yang saya cintai dan mencintai saya tentunya. 😆 *diperjelas* 😆

kayak farm ville 😀 Sumber

Continue reading “Mimpi Itu Masih Ada..”

Posted in Hidup, Hijau, Renungan

Jepara Terisolir

Banjir sudah menggenangi Jepara dan sekitarnya sejak hampir 5 hari yang lalu. Bencana banjir dalam lingkup dan jumlah yang *sangat tidak disangka* demikian besar ini membuat beberapa jalur utama di Jepara putus. Hubungan Jepara dengan kota-kota sekitarnya *yang juga mulai dikepung banjir* lumpuh.

This slideshow requires JavaScript.

Hari ini, banyak laporan dari citizen journalist yang juga menjadi korban banjir bahwa stok pangan di Jepara mulai menipis. Harga pangan melambung tinggi. Harga tempe di pasar menjadi Rp 7000,- dari harga normal Rp2000,-. Telur menjadi Rp20.000 – Rp21.000. Sayur mulai langka.

Continue reading “Jepara Terisolir”

Posted in Hidup, Hijau, Lesson Learnt, Renungan

Jeparaku Banjir

Bukan hanya Jakarta, tapi beberapa daerah di Indonesia juga banjir serta bencana lain. Sebut saja Sinabung, Manado, Jawa Barat (Subang, Tasikmalaya, Karawang, Cirebon), Pekalongan, dan terkecuali kota kelahiran saya: Jepara, dan tetangga sekelilingnya (Kudus, Pati).

#BanjirJepara tahun ini adalah yang terbesar dan terluas menurut sejarah hidup saya. Saya pernah merasakan apa yang dirasakan teman SMA saya saat banjir melanda Jepara 2004 lalu. Tapi, kok ya rasanya ndak sedahsyat sekarang. Sedikitnya 8 (menurut berita terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jepara malah sudah menjadi 9) kecamatan terendam banjir. Rata-rata sekitar 70-100 cm, bahkan ada yang lebih dari itu! 325 hektar sawah rusak, lebih dari 6000 jiwa mengungsi.

Continue reading “Jeparaku Banjir”

Posted in Hidup, Hijau, Kata Orang ini Cinta, Main-main

Hey You, I Love You

Merasa pernah nunggu kelahiran anak pertama? Haiiish… Saya belum pernah tuch. *Piye meh nunggu anak pertama lahir, wong nikah juga belum 😆 Gimana rasanya? Deg-degan? Pengen segera nggendhong biar kaya Mbah Surip “Tak Gendong Ke Mana-mana” 🙂

Meskipun belum pernah lahiran.. Tapi saya kemarin sempet agak2 mules plus deg-degan menanti kehadiran. Mmmm… bukan kok… Bukan calon suami kok 😎 , tenang aja. Saya cuman nungguin thukulnya (sorry.. bukan Tukul Arwana) taneman saya.

Deg-degan