Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Kerja, Lesson Learnt, Uncategorized

Tentang Kemuliaan Diri dan Keluarga (NHW #7)

Materi ke-7 Kuliah di Matrikulasi Institut Ibu Profesional adalah tentang bagaimana menjadi Ibu yang bisa memersiapkan kemuliaan diri dan keluarga. Bagi saya, yang masih memilih bekerja di ranah publik :D, produktivitas saya nantinya bukan lagi diukur ansih prestasi kerja tetapi apakah amanah utama saya sebagai Ibu yaitu anak dan keluarga tertangani dengan baik? Karena hal tersebut sesuai dengan value di Ibu Profesional 🙂

Apakah dengan aktifnya kita sebagai ibu di dunia produktif akan meningkatkan kemuliaan diri kita, anak-anak dan keluarga? Kalau jawabannya “iya”, lanjutkan. Kalau jawabannya “tidak”, kita perlu menguatkan pilar “Bunda Sayang” dan “Bunda Cekatan”, sebelum masuk ke pilar ketiga yaitu “Bunda Produktif”.

Bagaimana bisa jadi ibu yang nantinya menemukan kemuliaan diri dan keluarga? Harus paham diri sendiri dulu sebelum memuliakan orang lain. Bakat bisa jadi tempat rizky mencari kita… keberkahan dalam bertindak bisa jadi rizky yang mencari kita.. soooo tugasnya adalaaaaah….

Tugas pekan ini juga termasuk unik… karena menurut saya ini semacam verifikasi dan konfirmasi dari tugas-tugas sebelumnya, tentang hal yang membuat berbinar-binar, tentang bagaimana kita memilih desain pembelajaran, tentang misi, dan tentang tugas harian.

Setelah menjalankan test uji kenal diri melalui http://www.temubakat.com akhirnya saya ketemu juga dengan hasil analisis dari Abah Rama (Dear Readers you are allowed to try this test 😉 sejauh mana kita mengenali diri kita nanti bisa juga terefleksi dari hasil test). Daaaan almost 85% cocok lhooo… ahahahaha check it out at my result yaaa… Please temen2 dekat kalian bisa mengiyakan atau menidakkan yaa… ahahahaha

Continue reading “Tentang Kemuliaan Diri dan Keluarga (NHW #7)”

Advertisements
Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt

Mendisain Pembelajaran untuk Saya dan Meji

 

Yeay,, it’s Saturday and it’’s time to do my Nice Homework. Pekan ke 5 di matrikulasi IIP, belajar bagaimana caranya belajar. Nah loooh… cara belajar saja ada ilmunya. Tidak asal, karena apa? Biar nempel, biar ilmunya ga kabur-kabur. Kalau sesuai dengan piramida belajar Glasser, persentase  pemahaman akan sesuatu paling besar adalah jika sesuatu hal yang baru itu dipelajari dan diajarkan. Sementara itu, Pengalaman menempati peringkat kedua.. hal ini menunjukkan bahwa learning by doing dan learning how to share terbukti ampuh dalam pemahaman ilmu.

Naaah tugas atau NiceHomework ke 5 adalah membuat desain pembelajaran. Yang unik di pekan ini adalah kita dibebaskan menafsirkan desain pembelajaran untuk siapa. Sing penting digarap. 😀

Desain Pembelajaran atau Learning Desain bertujuan untuk menemukan formula terbaik dalam mencapai perubahan perilaku dan keterampilan dari pembelajar. Pada pekan ke-4 saya telah membuat kurikulum untuk diri saya sendiri, dan pekan ini adalah menggali potensi anak serta bagaimana melejitkannya. Maka, desain pembelajaran yang sayabuat adalah untuk anak saya dan saya sebagai fasilitatornya dengan demikian secara tidak langsung juga desain pembelajaranbagi saya bagaimana belajar menjadi pendamping dan pemandu bagai anak saya.

This is it…

Desain Pembelajaran Saya dan Meji The Explorer

Continue reading “Mendisain Pembelajaran untuk Saya dan Meji”

Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt, Renungan

Misi dalam Hidup: Mendidik Anak dengan Fitrah

Alhamdulillaah bertemu lagi dengan weekend. Weekend adalah waktu saya untuk menuliskan dan mengumpulkan tugas kuliah.  Ahahaha mengapa harus weekend? Karena saat weekend-lah yang saya plot untuk nulis yang (agak) panjang dari hasil kontemplasi hari Selasa-Jumat. Halah.. aahahahah.. pencitraan.

Pekan ini, pekan ke empat di Institut Ibu Profesional, saya belajar tentang mendidik dengan fitrah. Membaca dan mendengar materinya,,, saya tersadar bahwa seharusnya kurikulum memang seperti ini.. yang menggugah kesadaran.  *manggut-manggut sendiri 😀

Saya tersadar bahwa setiap pekan ada hal-hal yang ketika disambungkan akan menjadi mata rantai dan tidak bisa dipisahkan. Mata rantai itu yang akan menuntun saya dan keluarga menjadi insan dan keluarga yang lebih baik dari sebelumnya pastinya.. Aamiin

Dan tugas pekan ke-empat benar-benar membutuhkan kontemplasi. Perenungan yang dalam,, biasanya awal diberi Nice Homework (NHW) saya terbayang apa yang akan saya tulis… pekan ini? Bahkan sampai hari Kamis saya masih meraba.. Bismillaaah ini dia tugasnyaaa…

Tentang Misi Hidup

Dari NHW #3 yang lalu, saya mencoba memetakan misi yang dititipkan Allah kepada hidup saya. Saya senang dan menikmati ketika berada bersama banyak orang dan mereka bahagia dengan adanya saya. Terlebih Ibu saya, yang memang sejak meninggalnya Bapak, saya selalu menjadi teman ceritanya.  Saya merasa dan menyadari bahwa keberadaan saya di lingkungan pekerjaan saya membantu akselerasi pekerjaan, saya juga merasa dan menyadari bahwa saya senang dengan anak-anak memperhatikan tumbuh kembang dan pencapaian pendidikannya.

Pun demikian anak-anak menyukai saya, baik anak sendiri, anak saudara, anak teman, sampai anak-anak yang baru saya temui tak terkecuali anak kucing :D. Hal yang membuat semangat saya naik berkali-kali lipat adalah saat saya bermain bersama anak dan mempersiapkan sebuah project baik di rumah ataupun di lingkup pekerjaan.

Dari perenungan di atas, saya menyimpulkan bahwa saya dipilihkan jalan oleh Allah untuk menjadi ibu yang bekerja di ranah public namun tetap berusaha untuk memberikan kasih, perhatian, dan kebutuhan jiwa anak-anak saya.

Sehingga saya berusaha memahami bahwa misi yang ditiupkan kepada saya adalah menjadi ibu sumber keceriaan dan kebahagiaan keluarga juga lingkungan sekitar apapun kondisi yang saya jalani.

Continue reading “Misi dalam Hidup: Mendidik Anak dengan Fitrah”

Posted in Hidup, Hijau, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Renungan

Centangan Keprofesionalan Nita: 30 Hari Mengejar Cinta

​Tugas pekan ini terasa saaangat berat. Saya harus meluangkan waktu di tengah kesibukan persiapan pemakaman. Menunggu dan menemani istri sepupu saya, menenangkan anak-anaknya. Dan bolak balik Bate-Mayong. Ya, sepupu saya yang juga sepersusuan dengan saa meninggal minggu ini. Alllahummaghfir lahu.

Sebagai individu berusia hampir 32 tahun, jam terbang saya menjadi istri adalah 3 tahun, sementara menjadi Ibu 2 tahun plus pengalaman ngasuh keponakan-keponakan dan sepupu yang ditinggal emaknya :mrgreen: 🙂 😀

Sebagai individu juga, pilihan yang harus saya jalani saat ini adalah dengan bekerja di ranah public, pun mesti demikian hasrat, mimpi, dan keinginan untuk bisa menjadi full time emak tetap ada dan menari-nari dalam benak. Halah.. 🙂

Untuk menjalani peran saya sebagai seorang istri dan Ibu yang juga bekerja maka profesionalisme sangat dibutuhkan. Bagaimana tetap disayang anak dan suami juga berprestasi di tempat kerja. Selama ini, flowing saja. Mengalir saja. Tapii tentu saja beberapa bahkan banyak yang miss dan tak jarang saya menjadi sedikit banyak tidak professional menjadi istri dan ibu yang bekerja ahahaha yang udah kenal aku dari dulu pasti pahaaam banget.

Soooo bersyukur pekan kedua di Matrikulasi Institut Ibu professional, tugasnya membuat checklist. Ceklisnya bukan hanya memenuhi kegiatan harian aja, tetapi harus punya tujuan yang jelas, rentang waktu yang pasti, sehingga bias dilihat ketercapaiannya.

And this is it!

“Centangan Keprofesionalan Nita”

Continue reading “Centangan Keprofesionalan Nita: 30 Hari Mengejar Cinta”

Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Lesson Learnt

Berkomunikasi dengan Empati

Sebagai insan hidup bermasyarakat dan siswa di kelas universitas kehidupan tentunya saya harus bisa terus belajar agar hidup yang istilahnya cuma mampir ngombe ini bisa bermanfaat J . Dan satu hal yang ingin saya tekankan kepada diri saya adalah

Belajar mencari ilmu itu banyak jalannya, ada syaratnya, dan tak terhingga berkahnya”.

Kalau ditanya sedang suka dan ingin belajar apa saya ingin sekali bisa masuk dan menekuni jurusan komunikasi empati. Ada tidak ya kira-kira di universitas formal? Hehehehe.  Alasannya sederhana tapi menurut saya penting. Di tengah terbukanya kemudahan akses mencari dan mendapat ilmu, di mana saja dan kapan saja, kita sangat mungkin menyerap ilmu apapun yang kita mau. Let’s say, ilmu keluarga, ilmu pendidikan anak, ilmu memasak, bahkan ilmu menyanyi (bagi yang hobi menyanyi tentunya). Tetapi ada satu hal yang menurut saya penting, setelah saya dapat ilmunya, bagaimana menerapkan dan menyampaikan ilmu tersebut dalam kehidupan saya, kepada orang-orang terdekat di sekitar saya.

Continue reading “Berkomunikasi dengan Empati”