Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt

Mendisain Pembelajaran untuk Saya dan Meji

 

Yeay,, it’s Saturday and it’’s time to do my Nice Homework. Pekan ke 5 di matrikulasi IIP, belajar bagaimana caranya belajar. Nah loooh… cara belajar saja ada ilmunya. Tidak asal, karena apa? Biar nempel, biar ilmunya ga kabur-kabur. Kalau sesuai dengan piramida belajar Glasser, persentase  pemahaman akan sesuatu paling besar adalah jika sesuatu hal yang baru itu dipelajari dan diajarkan. Sementara itu, Pengalaman menempati peringkat kedua.. hal ini menunjukkan bahwa learning by doing dan learning how to share terbukti ampuh dalam pemahaman ilmu.

Naaah tugas atau NiceHomework ke 5 adalah membuat desain pembelajaran. Yang unik di pekan ini adalah kita dibebaskan menafsirkan desain pembelajaran untuk siapa. Sing penting digarap. 😀

Desain Pembelajaran atau Learning Desain bertujuan untuk menemukan formula terbaik dalam mencapai perubahan perilaku dan keterampilan dari pembelajar. Pada pekan ke-4 saya telah membuat kurikulum untuk diri saya sendiri, dan pekan ini adalah menggali potensi anak serta bagaimana melejitkannya. Maka, desain pembelajaran yang sayabuat adalah untuk anak saya dan saya sebagai fasilitatornya dengan demikian secara tidak langsung juga desain pembelajaranbagi saya bagaimana belajar menjadi pendamping dan pemandu bagai anak saya.

This is it…

Desain Pembelajaran Saya dan Meji The Explorer

Continue reading “Mendisain Pembelajaran untuk Saya dan Meji”

Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt, Renungan

Misi dalam Hidup: Mendidik Anak dengan Fitrah

Alhamdulillaah bertemu lagi dengan weekend. Weekend adalah waktu saya untuk menuliskan dan mengumpulkan tugas kuliah.  Ahahaha mengapa harus weekend? Karena saat weekend-lah yang saya plot untuk nulis yang (agak) panjang dari hasil kontemplasi hari Selasa-Jumat. Halah.. aahahahah.. pencitraan.

Pekan ini, pekan ke empat di Institut Ibu Profesional, saya belajar tentang mendidik dengan fitrah. Membaca dan mendengar materinya,,, saya tersadar bahwa seharusnya kurikulum memang seperti ini.. yang menggugah kesadaran.  *manggut-manggut sendiri 😀

Saya tersadar bahwa setiap pekan ada hal-hal yang ketika disambungkan akan menjadi mata rantai dan tidak bisa dipisahkan. Mata rantai itu yang akan menuntun saya dan keluarga menjadi insan dan keluarga yang lebih baik dari sebelumnya pastinya.. Aamiin

Dan tugas pekan ke-empat benar-benar membutuhkan kontemplasi. Perenungan yang dalam,, biasanya awal diberi Nice Homework (NHW) saya terbayang apa yang akan saya tulis… pekan ini? Bahkan sampai hari Kamis saya masih meraba.. Bismillaaah ini dia tugasnyaaa…

Tentang Misi Hidup

Dari NHW #3 yang lalu, saya mencoba memetakan misi yang dititipkan Allah kepada hidup saya. Saya senang dan menikmati ketika berada bersama banyak orang dan mereka bahagia dengan adanya saya. Terlebih Ibu saya, yang memang sejak meninggalnya Bapak, saya selalu menjadi teman ceritanya.  Saya merasa dan menyadari bahwa keberadaan saya di lingkungan pekerjaan saya membantu akselerasi pekerjaan, saya juga merasa dan menyadari bahwa saya senang dengan anak-anak memperhatikan tumbuh kembang dan pencapaian pendidikannya.

Pun demikian anak-anak menyukai saya, baik anak sendiri, anak saudara, anak teman, sampai anak-anak yang baru saya temui tak terkecuali anak kucing :D. Hal yang membuat semangat saya naik berkali-kali lipat adalah saat saya bermain bersama anak dan mempersiapkan sebuah project baik di rumah ataupun di lingkup pekerjaan.

Dari perenungan di atas, saya menyimpulkan bahwa saya dipilihkan jalan oleh Allah untuk menjadi ibu yang bekerja di ranah public namun tetap berusaha untuk memberikan kasih, perhatian, dan kebutuhan jiwa anak-anak saya.

Sehingga saya berusaha memahami bahwa misi yang ditiupkan kepada saya adalah menjadi ibu sumber keceriaan dan kebahagiaan keluarga juga lingkungan sekitar apapun kondisi yang saya jalani.

Continue reading “Misi dalam Hidup: Mendidik Anak dengan Fitrah”

Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Lesson Learnt

Berkomunikasi dengan Empati

Sebagai insan hidup bermasyarakat dan siswa di kelas universitas kehidupan tentunya saya harus bisa terus belajar agar hidup yang istilahnya cuma mampir ngombe ini bisa bermanfaat J . Dan satu hal yang ingin saya tekankan kepada diri saya adalah

Belajar mencari ilmu itu banyak jalannya, ada syaratnya, dan tak terhingga berkahnya”.

Kalau ditanya sedang suka dan ingin belajar apa saya ingin sekali bisa masuk dan menekuni jurusan komunikasi empati. Ada tidak ya kira-kira di universitas formal? Hehehehe.  Alasannya sederhana tapi menurut saya penting. Di tengah terbukanya kemudahan akses mencari dan mendapat ilmu, di mana saja dan kapan saja, kita sangat mungkin menyerap ilmu apapun yang kita mau. Let’s say, ilmu keluarga, ilmu pendidikan anak, ilmu memasak, bahkan ilmu menyanyi (bagi yang hobi menyanyi tentunya). Tetapi ada satu hal yang menurut saya penting, setelah saya dapat ilmunya, bagaimana menerapkan dan menyampaikan ilmu tersebut dalam kehidupan saya, kepada orang-orang terdekat di sekitar saya.

Continue reading “Berkomunikasi dengan Empati”

Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt

Sakit Gigi vs Sakit Hati

Hai halo, Jakarta panas yak.. iya, sepanas telinga saya ngerasain sakit gigi 😆 Untungnya angin di daerah Kalibata ini masih baik banget 😀

Ceritanya sejak Jumat lalu saya sakit gigi. Bermula dari tambalan gigi yang lepas (atau mau melepaskan diri kayak Nia Daniati?) dan pas gaya2 ikut lunch meeting di Agrinex makan salad, little piece of the man I used to be jagung manis masuk ke lubang gigi saya 😥 Rasanya langsung ampun2an. Dua jam dengerin diskusi pikiran saya jd ke mana-mana.. ke materi diskusi, ke gigi, dan ke kamu *halaaah* 😀

Continue reading “Sakit Gigi vs Sakit Hati”

Posted in Hidup, Hijau, Lesson Learnt, Renungan

Jeparaku Banjir

Bukan hanya Jakarta, tapi beberapa daerah di Indonesia juga banjir serta bencana lain. Sebut saja Sinabung, Manado, Jawa Barat (Subang, Tasikmalaya, Karawang, Cirebon), Pekalongan, dan terkecuali kota kelahiran saya: Jepara, dan tetangga sekelilingnya (Kudus, Pati).

#BanjirJepara tahun ini adalah yang terbesar dan terluas menurut sejarah hidup saya. Saya pernah merasakan apa yang dirasakan teman SMA saya saat banjir melanda Jepara 2004 lalu. Tapi, kok ya rasanya ndak sedahsyat sekarang. Sedikitnya 8 (menurut berita terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jepara malah sudah menjadi 9) kecamatan terendam banjir. Rata-rata sekitar 70-100 cm, bahkan ada yang lebih dari itu! 325 hektar sawah rusak, lebih dari 6000 jiwa mengungsi.

Continue reading “Jeparaku Banjir”

Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt

Bahagia dan Ke-Pede-an Itu Tipis Bedanya

Sabtu lalu, saya kembali bertemu dengan adik perempuan saya. Berjalan ke pasar, membeli penganan khas yang murah meriah. Nonton film dan tivi sampai ketiduran. Pastinya ngobrol ngalor ngidul adalah hal yang tak terelakkan. 😎

Kami berbicara tentang cinta *uhukkk* yang menurut kami adalah hal yang kompleks. Tentang seseorang yang rela melakukan apapun untuk seseorang yang disayang atau dicintainya. Kemudian saya berkata…

Itu dia kenapa, sampai kapanpun kita tak akan pernah tahu, siapa menjadi malaikat tanpa sayap bagi siapa.

Kamu Bahagia atau Kepedean?…..