Posted in Hidup, Renungan

Saat Meji “Jauh”

Hari ini saya merasa Majida “jauh” dari saya. Bukan dalam arti jarak, tetapi lebih kepada perasaan. Saya tahu, saya belum menjadi Ibu sempurna yang setiap saat ada untuk Majida 🙂

Dan tangisan pilunya sambil memanggil Buliknya dengan sebutan Mama adalah hal yang mengiris hati.

Siapa yang memulai panggilan itu? Entah, yyang jelas bukan saya. Saya pun tidak bisa langsung melarang karena saya mencoba merasainya yang pastinya ingin dipanggil  Mama sambil menunggu datangnya amanah.

Tapi jujur, saya sedih.. saya merasa tidak dibutuhkan oleh anak saya.. 😥 Mungkin Gusti Allah memberi saya hikmah agar bisa lebih  profesional sebagai Ibu yang juga pekerja.

Ndhuk, membersamaimu selepas kerja adalah hal yang paling Ibu tunggu.. pun jika saat ini Ibu hanya bisa mendengar celotehmu dari tempat yang berjarak darimu..

Ingin rasanya mengulang sejenak waktu untuk meminta orang-orang di rumah ini kau panggil sebagaimana mestinya 🙂
*catatan emak galau 😭

Advertisements
Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Lesson Learnt, Renungan

Misi dalam Hidup: Mendidik Anak dengan Fitrah

Alhamdulillaah bertemu lagi dengan weekend. Weekend adalah waktu saya untuk menuliskan dan mengumpulkan tugas kuliah.  Ahahaha mengapa harus weekend? Karena saat weekend-lah yang saya plot untuk nulis yang (agak) panjang dari hasil kontemplasi hari Selasa-Jumat. Halah.. aahahahah.. pencitraan.

Pekan ini, pekan ke empat di Institut Ibu Profesional, saya belajar tentang mendidik dengan fitrah. Membaca dan mendengar materinya,,, saya tersadar bahwa seharusnya kurikulum memang seperti ini.. yang menggugah kesadaran.  *manggut-manggut sendiri 😀

Saya tersadar bahwa setiap pekan ada hal-hal yang ketika disambungkan akan menjadi mata rantai dan tidak bisa dipisahkan. Mata rantai itu yang akan menuntun saya dan keluarga menjadi insan dan keluarga yang lebih baik dari sebelumnya pastinya.. Aamiin

Dan tugas pekan ke-empat benar-benar membutuhkan kontemplasi. Perenungan yang dalam,, biasanya awal diberi Nice Homework (NHW) saya terbayang apa yang akan saya tulis… pekan ini? Bahkan sampai hari Kamis saya masih meraba.. Bismillaaah ini dia tugasnyaaa…

Tentang Misi Hidup

Dari NHW #3 yang lalu, saya mencoba memetakan misi yang dititipkan Allah kepada hidup saya. Saya senang dan menikmati ketika berada bersama banyak orang dan mereka bahagia dengan adanya saya. Terlebih Ibu saya, yang memang sejak meninggalnya Bapak, saya selalu menjadi teman ceritanya.  Saya merasa dan menyadari bahwa keberadaan saya di lingkungan pekerjaan saya membantu akselerasi pekerjaan, saya juga merasa dan menyadari bahwa saya senang dengan anak-anak memperhatikan tumbuh kembang dan pencapaian pendidikannya.

Pun demikian anak-anak menyukai saya, baik anak sendiri, anak saudara, anak teman, sampai anak-anak yang baru saya temui tak terkecuali anak kucing :D. Hal yang membuat semangat saya naik berkali-kali lipat adalah saat saya bermain bersama anak dan mempersiapkan sebuah project baik di rumah ataupun di lingkup pekerjaan.

Dari perenungan di atas, saya menyimpulkan bahwa saya dipilihkan jalan oleh Allah untuk menjadi ibu yang bekerja di ranah public namun tetap berusaha untuk memberikan kasih, perhatian, dan kebutuhan jiwa anak-anak saya.

Sehingga saya berusaha memahami bahwa misi yang ditiupkan kepada saya adalah menjadi ibu sumber keceriaan dan kebahagiaan keluarga juga lingkungan sekitar apapun kondisi yang saya jalani.

Continue reading “Misi dalam Hidup: Mendidik Anak dengan Fitrah”

Posted in Hidup, Hijau, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Renungan

Centangan Keprofesionalan Nita: 30 Hari Mengejar Cinta

​Tugas pekan ini terasa saaangat berat. Saya harus meluangkan waktu di tengah kesibukan persiapan pemakaman. Menunggu dan menemani istri sepupu saya, menenangkan anak-anaknya. Dan bolak balik Bate-Mayong. Ya, sepupu saya yang juga sepersusuan dengan saa meninggal minggu ini. Alllahummaghfir lahu.

Sebagai individu berusia hampir 32 tahun, jam terbang saya menjadi istri adalah 3 tahun, sementara menjadi Ibu 2 tahun plus pengalaman ngasuh keponakan-keponakan dan sepupu yang ditinggal emaknya :mrgreen: 🙂 😀

Sebagai individu juga, pilihan yang harus saya jalani saat ini adalah dengan bekerja di ranah public, pun mesti demikian hasrat, mimpi, dan keinginan untuk bisa menjadi full time emak tetap ada dan menari-nari dalam benak. Halah.. 🙂

Untuk menjalani peran saya sebagai seorang istri dan Ibu yang juga bekerja maka profesionalisme sangat dibutuhkan. Bagaimana tetap disayang anak dan suami juga berprestasi di tempat kerja. Selama ini, flowing saja. Mengalir saja. Tapii tentu saja beberapa bahkan banyak yang miss dan tak jarang saya menjadi sedikit banyak tidak professional menjadi istri dan ibu yang bekerja ahahaha yang udah kenal aku dari dulu pasti pahaaam banget.

Soooo bersyukur pekan kedua di Matrikulasi Institut Ibu professional, tugasnya membuat checklist. Ceklisnya bukan hanya memenuhi kegiatan harian aja, tetapi harus punya tujuan yang jelas, rentang waktu yang pasti, sehingga bias dilihat ketercapaiannya.

And this is it!

“Centangan Keprofesionalan Nita”

Continue reading “Centangan Keprofesionalan Nita: 30 Hari Mengejar Cinta”

Posted in Hidup, Renungan

Menghargai “Bentuk” Manusia

Awal

Awalnya saya rasa sebenarnya tidak perlu saya menulis ini. Tapi kemudian saya berpikir ulang. Saya perlu menuliskan ini, setidaknya agar orang-orang di lingkaran saya tidak melakukan hal-hal mencacat bentuk temannya, seperti apapun dia. Juga agar orang-orang yang senasib dengan saya dapat lebih berbahagia dan menghargai tubuhnya. Baiklah,, agak panjang memang.. bersabar ya bacanya (kepedean ada yang baca) 😆 :mrgreen:

612c14df1b065b4f82d35b075f5de8fc
Gambar dari sini

Sejak saya kecil dan memiliki bentuk badan yang lebih, saya sering diejek dan ditertawakan. Teman-teman tidak jarang yang bercanda dengan menggunakan nama obyek (yang diasosiasikan badan saya), seperti “Awas ana slender lewat (Awas ada silinder -kendaraan yang dipakai untuk menghaluskan aspal- lewat)”.. “Ati-ati Nita lewat, ogreg (Hati-hati Nita lewat.. bergetar),” dan lain sebagainya.

Continue reading “Menghargai “Bentuk” Manusia”

Posted in Hidup, Hijau, Renungan

Jepara Terisolir

Banjir sudah menggenangi Jepara dan sekitarnya sejak hampir 5 hari yang lalu. Bencana banjir dalam lingkup dan jumlah yang *sangat tidak disangka* demikian besar ini membuat beberapa jalur utama di Jepara putus. Hubungan Jepara dengan kota-kota sekitarnya *yang juga mulai dikepung banjir* lumpuh.

This slideshow requires JavaScript.

Hari ini, banyak laporan dari citizen journalist yang juga menjadi korban banjir bahwa stok pangan di Jepara mulai menipis. Harga pangan melambung tinggi. Harga tempe di pasar menjadi Rp 7000,- dari harga normal Rp2000,-. Telur menjadi Rp20.000 – Rp21.000. Sayur mulai langka.

Continue reading “Jepara Terisolir”

Posted in Hidup, Hijau, Lesson Learnt, Renungan

Jeparaku Banjir

Bukan hanya Jakarta, tapi beberapa daerah di Indonesia juga banjir serta bencana lain. Sebut saja Sinabung, Manado, Jawa Barat (Subang, Tasikmalaya, Karawang, Cirebon), Pekalongan, dan terkecuali kota kelahiran saya: Jepara, dan tetangga sekelilingnya (Kudus, Pati).

#BanjirJepara tahun ini adalah yang terbesar dan terluas menurut sejarah hidup saya. Saya pernah merasakan apa yang dirasakan teman SMA saya saat banjir melanda Jepara 2004 lalu. Tapi, kok ya rasanya ndak sedahsyat sekarang. Sedikitnya 8 (menurut berita terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jepara malah sudah menjadi 9) kecamatan terendam banjir. Rata-rata sekitar 70-100 cm, bahkan ada yang lebih dari itu! 325 hektar sawah rusak, lebih dari 6000 jiwa mengungsi.

Continue reading “Jeparaku Banjir”