Posted in Uncategorized

Karena Pendidikan Pertama Datangnya dari Rumah (NHW #3)

Tugas minggu ke-tiga di Institut Ibu Profesional ini bikin baper tapi ga boleg baper. Nah looo… tentang mencintai pasangan, pemetaan potensi diri, pasangan, anak, lingkungan untuk membangun peradaban dari rumah.

Saya selalu memperbarui cinta saya kepada suami saya setiap hari. Bukan berarti setiap hari usang, tapi saya walau kadang sebel karena selalu jadi tukang pungut baju kotor 🙂 😀 saya mencintainya sebagai suami dan Bapaknya Meji.

Saya selalu ingat saat pertama kami saling kenal melalui Mamanya. Ya, cerita kami hampir mirip FTV di mana saya ketemu dengan seorang Ibu yang butuh bantuan, saya tolong, Ibu itu cocok dengan saya. Kami saling kenal. Dan singkat cerita, jadilah sekarang kami bertiga. Saya, suami, dan Majida.

Mas Dhana bukan orang yang romantis, tapi dia orang yang lembut dalam diamnya. Dia juga bukan orang yang sering menyanjung saya.. meskipun jujur,, saya pengen dibilang cantik sama dia ahahaha… Tapi saya tahu di balik tajam matanya,, dia berterima kasih saya mau tidur malam untuk ajak main Majida. Senyum tipisnya pengganti ucap syukur saat saya mau katakan tidak untuk lembur Sabtu dan Ahad. Atau kalaupun kepepet saya harus ke kampus… Mas Dhana dampingi saya.. ngasuh Majida. 😁

Jadi,, meskipun suami saya tipe pendiam, tak romantis, kadang ngeselin saking diamnya, tapi dia tipe laki banget.

Continue reading “Karena Pendidikan Pertama Datangnya dari Rumah (NHW #3)”

Posted in Hidup, Hijau, Institut Ibu Profesional, Kata Orang ini Cinta, Renungan

Centangan Keprofesionalan Nita: 30 Hari Mengejar Cinta

​Tugas pekan ini terasa saaangat berat. Saya harus meluangkan waktu di tengah kesibukan persiapan pemakaman. Menunggu dan menemani istri sepupu saya, menenangkan anak-anaknya. Dan bolak balik Bate-Mayong. Ya, sepupu saya yang juga sepersusuan dengan saa meninggal minggu ini. Alllahummaghfir lahu.

Sebagai individu berusia hampir 32 tahun, jam terbang saya menjadi istri adalah 3 tahun, sementara menjadi Ibu 2 tahun plus pengalaman ngasuh keponakan-keponakan dan sepupu yang ditinggal emaknya :mrgreen: 🙂 😀

Sebagai individu juga, pilihan yang harus saya jalani saat ini adalah dengan bekerja di ranah public, pun mesti demikian hasrat, mimpi, dan keinginan untuk bisa menjadi full time emak tetap ada dan menari-nari dalam benak. Halah.. 🙂

Untuk menjalani peran saya sebagai seorang istri dan Ibu yang juga bekerja maka profesionalisme sangat dibutuhkan. Bagaimana tetap disayang anak dan suami juga berprestasi di tempat kerja. Selama ini, flowing saja. Mengalir saja. Tapii tentu saja beberapa bahkan banyak yang miss dan tak jarang saya menjadi sedikit banyak tidak professional menjadi istri dan ibu yang bekerja ahahaha yang udah kenal aku dari dulu pasti pahaaam banget.

Soooo bersyukur pekan kedua di Matrikulasi Institut Ibu professional, tugasnya membuat checklist. Ceklisnya bukan hanya memenuhi kegiatan harian aja, tetapi harus punya tujuan yang jelas, rentang waktu yang pasti, sehingga bias dilihat ketercapaiannya.

And this is it!

“Centangan Keprofesionalan Nita”

Continue reading “Centangan Keprofesionalan Nita: 30 Hari Mengejar Cinta”

Posted in Hidup, Institut Ibu Profesional, Lesson Learnt

Berkomunikasi dengan Empati

Sebagai insan hidup bermasyarakat dan siswa di kelas universitas kehidupan tentunya saya harus bisa terus belajar agar hidup yang istilahnya cuma mampir ngombe ini bisa bermanfaat J . Dan satu hal yang ingin saya tekankan kepada diri saya adalah

Belajar mencari ilmu itu banyak jalannya, ada syaratnya, dan tak terhingga berkahnya”.

Kalau ditanya sedang suka dan ingin belajar apa saya ingin sekali bisa masuk dan menekuni jurusan komunikasi empati. Ada tidak ya kira-kira di universitas formal? Hehehehe.  Alasannya sederhana tapi menurut saya penting. Di tengah terbukanya kemudahan akses mencari dan mendapat ilmu, di mana saja dan kapan saja, kita sangat mungkin menyerap ilmu apapun yang kita mau. Let’s say, ilmu keluarga, ilmu pendidikan anak, ilmu memasak, bahkan ilmu menyanyi (bagi yang hobi menyanyi tentunya). Tetapi ada satu hal yang menurut saya penting, setelah saya dapat ilmunya, bagaimana menerapkan dan menyampaikan ilmu tersebut dalam kehidupan saya, kepada orang-orang terdekat di sekitar saya.

Continue reading “Berkomunikasi dengan Empati”

Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta

Morning Hectic dan Kebahagiaan Kita

Karena simpul-simpul kebahagiaan ada di mana saja, mari berbahagia

ponrht8a0o20c4x
Dari sini

….

Para perempuan, siapa yang setiap pagi memiliki sebejibun kewajiban yang harus dilakukan? Mencuci tumpukan piring, panci, dan wajan kotor. Menyiapkan sarapan, baju kerja suami, memandikan bayi dan anak, menyiapkan bekal anak. Belum lagi kalau yang masih tinggal dengan orang tua atau ketiban sampur untuk ngerawat lansia. Mulai dari memandikan, membersihkan kotorannya, menyuapi, yang kadang masih disertai dengan omelan-omelan yang menguji kesabaran. Percayalah kita adalah makhluk yang dipilih untuk menjalani peran ini.

Lelah dan penat itu pasti ada. Saya pribadi merasakan sebagian di antara tugas-tugas di atas. Di sela-sela pontang-panting di pagi hari, menyempatkan menanyakan kepada suami “Mas, mau dibuatkan teh?” atau menawarkan makanan yang kita buat untuk sarapan adalah kunci. Kunci dari keberlanjutan hari saya. Mengapa saya sebut kunci? Karena di sinilah letak kebahagiaan pagi yang bisa berlanjut sebagai dopping melakukan tugas dan tanggung jawab pekerjaan seharian. Agak berlebihan mungkin bagi yang lain.

Continue reading “Morning Hectic dan Kebahagiaan Kita”

Posted in Hidup, Kata Orang ini Cinta

tentang berbeda

Berbeda, tak kemudian menjadi alasan untuk berhenti mencintai
Berbeda, tak kemudian menjadi alasan untuk menghapus kebaikan
Berbeda, tak kemudian menjadi alasan untuk seterusnya membenci
Berbedaku denganmu, bukankah selalu ada cara untuk menjembataninya?
Dan tidakkah mungkin berbedaku denganmu adalah cara-Nya melengkapkan kita?

sandal-sancu-hudson-jessica
Di sini

*Catatan sendiri, hari ke-enam Desember*

Posted in Hidup, Renungan

Menghargai “Bentuk” Manusia

Awal

Awalnya saya rasa sebenarnya tidak perlu saya menulis ini. Tapi kemudian saya berpikir ulang. Saya perlu menuliskan ini, setidaknya agar orang-orang di lingkaran saya tidak melakukan hal-hal mencacat bentuk temannya, seperti apapun dia. Juga agar orang-orang yang senasib dengan saya dapat lebih berbahagia dan menghargai tubuhnya. Baiklah,, agak panjang memang.. bersabar ya bacanya (kepedean ada yang baca) 😆 :mrgreen:

612c14df1b065b4f82d35b075f5de8fc
Gambar dari sini

Sejak saya kecil dan memiliki bentuk badan yang lebih, saya sering diejek dan ditertawakan. Teman-teman tidak jarang yang bercanda dengan menggunakan nama obyek (yang diasosiasikan badan saya), seperti “Awas ana slender lewat (Awas ada silinder -kendaraan yang dipakai untuk menghaluskan aspal- lewat)”.. “Ati-ati Nita lewat, ogreg (Hati-hati Nita lewat.. bergetar),” dan lain sebagainya.

Continue reading “Menghargai “Bentuk” Manusia”