Posted in Institut Ibu Profesional

Majida dan Ketertarikan Belajar Organ Tubuh

Kemarin, saat Majida mandi sore, tidak sengaja ada air yang masuk ke telinga. Mungkin karena merasa ada benda asing di telinga yang menjadikan kepala Majida berbunyi dung-dung juga suara di sekitarnya menjadi berdengung, Majida mencoba bersuara. Awalnya Aaaaa pelan, lebih kencang, dan berteriak.

Saya pegang badannya dan saya bilang, kalau mungkin ada air yang nyasar masuk di telinganya.

“Ada air di telinganya Majida, Bu?”

“Iya.” Jawab saya. “Yuk dikeluarkan.” lanjut saya yang kemudian ditanggapi dengan anggukan. “Majida ngikut yang Ibuk bilang ya.. Yuk kepalanya agak miring.”

Majida mengikuti instruksi saya untuk memiringkan kepalanya, diam sejenak saat saya teteskan air di telinganya, dan memiringkan kepalanya lagi ke arah berlawanan.

“Sudah bisa Ibuuuk. Aaaa… Aaaaa…” Teriaknya mengetes kondisi telinganya.

Saya jadi teringat saat Majida mengantar Mbah Uti ke dokter dan melihat ada poster jantung, tubuh yang rusak karena rokok. Rasa ingin tahunya tentang itu apa, mengapa begitu, dan langsung meminta Om-Omnya untuk tidak merokok, karena takut badannya rusak kaya di gambar.

Continue reading “Majida dan Ketertarikan Belajar Organ Tubuh”

Advertisements
Posted in Institut Ibu Profesional

Dua Itu Lebih Banyak dari Satu – Math Around Us

Tadi siang usai mengantar Mbah Uti pergi ngaji, Majida beli es krim. Dia beli dua. Katanya, “Satu untuk Majida, satu untuk Mbak Aida.” Sesampai rumah, demi melihat ada duku di meja makan, Majida melupakan es krimnya. Jadilah es krim saya simpan di freezer.

Seharian Majida main lelompatan, building block, nemenin Mbak Aida belajar buat UNBK. Mondar mandiir terus. Sampai akhirnya sore tadi saat saya melipat-lipat baju yang akan masuk antrean setrika, Majida teringat akan es krimnya.

Dia merengek minta es krim saat itu juga karena tangannya tidak bisa menggapai freezeer. Karena sangat nanggung, tinggal 2 daster Mbah Buyut belum saya lipat, saya memintanya bersabar. Awalnya Majida masih merengek.

Saya dengan santai melempar celetukan.

“Kalau Majida sabar, nanti es krimnya ada dua. Kalau tidak sabar, es krimnya ada satu. Majida pilih yang mana?”

“Kalau sabar, ada dua (es krimnya)?” Katanya seraya menunjukkan simbol dua jari.

“Iya,” kata saya.

Akhirnya Majida bersepakat untuk sabar dan memilih es krim yang lebih banyak. Dan es krim Majida pun jadi dua karena Majida berhasil tepati janji ๐Ÿ˜. Bukan dengan membeli lagi, tapi makan berdua dengan Mbak Aida. Saling berbagi es krim. Bahagia itu sesederhana melihat Majida dan Aida saling menikmati es krim.

Majida mulai memahami kuantitas dari bilangan.

#Day11 #Tantangan10Hari #KuliahBumsayIIP #ILoveMath #MathAroundUs

Posted in Institut Ibu Profesional

Bernyanyi Rakaat Shalat – Math Around Us

Majida saya unduhkan satu video lagu anak tentang jumlah rakaat shalat. Majida terdiam lama saat mendengarkan lagu itu untuk pertama kalinya. Kali kedua saya menirukan dengan gerakan saat lagu menyebut nama bilangan. Dua, empat, tiga.

Kemudian putaran ketiga, Majida mulai menirukan lagunya disertai gerakan jari mengacung. Dua di tangan kanan, dan dua di tangan kiri. ๐Ÿ˜Š. Yang seru adalah saat Majida melihat sosok Bapak di video tersebut. Dia mengatakan.

“Ibuk, itu kayak Bapak ya. Pakai kacamata dan punya jenggot.” Majida mengingat dengan perbandingan dan presisi

#Day10 #Tantangan10Hari #KuliahBunsayIIP #ILoveMath #MathAroundUs

Posted in Institut Ibu Profesional

Berkunjung ke Rumah Sakit – Math Around Us

Majida saya ajak untuk antar Mbah Uti periksa jantung ke RSU Kartini. Mbah Uti dijadwalkan test echocardiography untuk memastikan kondisi kesehatan jantungnya. Sampai di RS, Mbah Uti masih antre. Mbah Uti urutan ke-3 untuk echo.

“Mbah Uti, masih nunggu. Mbah Uti urutan ke-tiga.” Kata Mbah Uti ke Majida.

“Ke-tiga Uti?” Tanya Majida kebingungan. ๐Ÿ˜ฎ

Mbah Uti kemudian menjelaskan sambil menunjuk pasien yang mengantre dan mengatakan. “Mbah Kung itu dulu, trus Budhe itu, baru Mbah Uti. Yuk coba dihitung.” Ajak Mbah Uti. Mereka kemudian bersama menghitung. Majida tampak lebih puas. ๐Ÿ˜Š

Sambil menunggu, Majida saya ajak jalan-jalan dan membeli makanan kecil untuk kami. Dia terpaku melihat lift a.k.a elevator.

“Ibuk, itu apa?”.

“Itu lift, elevator. Majida mau masuk, mencoba lift?”

“Jangan Ibuk, nanti Ibuk hilang.” ๐Ÿ˜ฆ

Continue reading “Berkunjung ke Rumah Sakit – Math Around Us”

Posted in Institut Ibu Profesional

Ini Sore? Burungnya Pulang? – Math Around Us

Majida termasuk anak yang mudah mengingat sebuah rutinitas. Misalnya kalau pas Shubuh dia terbangun dan kemudian melihat saya shalat, pasti setelahnya dia mengajak saya keluar kamar untuk mencuci piring atau menyapu halaman Mbah Buyut :D. Majida kadang masih butuh konfirmasi untuk pagi-siang-malam. Terlebih dengan jam tidur yang masih sering tertukar.ย Informasi yang didapatkannya adalah kita tidur di malam hari dan saat bangun tidur adalah pagi. Maka saat Majida membuka mata di malam hari setelah tidur seharian, dia akan bertanya: “Ibuk, ini pagi?”. Biasanya saya memberikan tanda-tanda dan informasi ciri-ciri. Yang termudah adalah dengan adanya matahari dan warna langit. Pagi ada matahari, malam tidak ada matahari dan langitnya gelap.

Sambil menyapu, biasanya dia akan bertanya. “Ini pagi ya, Ibuk?” Saya biasanya menjawab dengan pertanyaan “Coba lihat langit, ada matahari tidak? Langitnya terang apa gelap?” Saya juga menambahkan rasa udara agar Majida lebih memahami perbedaan Sore dan Pagi buta. “Pagi itu udaranya rasanya segeeeer, kalau sore tidak begitu segeer.” Ucap saya sambil mempraktikkan gaya menarik nafas dalam dengan ekspresi sangat menikmati udara segar ahahahaha.

Kemarin, sambil saya ajak mengangkati jemuran, Majida nangkring di dekat genteng lantai dua, di dekat kamar Om-nya. Majida saya ajak memilah bajunya (yang dengan mudah dia selesaikan) serta memilah warna (juga dapat dia kerjakan). Majida agak tidak suka ketika saya ajak menghitung. Alih-alih menghitung, dia malah melihat ke arah langit dan bertanya.

Tempat Favorit Majida
Ini Meji di tempat favorit bersama Om-nya. Kemarin saya ga bawa HP… ๐Ÿ™‚

Continue reading “Ini Sore? Burungnya Pulang? – Math Around Us”

Posted in Institut Ibu Profesional

Bapak Tinggi Ya, Ibuk Pendek – Math Around Us

Pekan ini Majida seperti rindu kepada Bapaknya. Mecah celengan yang diucapkan, nanti nabung sama Bapak. Mau makan yang diingat Bapak. Dan seperti tadi pagi saat kami sama-sama menyapu halaman rumah Mbah Buyut. Majida jejingkrakan di kebun kecil yang biasa digunakan Bapaknya untuk eksperimen tanam-menanam.

Sambil terus menyapu saya mendengarkan Majida berbicara, menjawab pertanyaannya, mencoba melemparkan pertanyaan kepadanya. Sampai pada satu waktu di mana kami membahas kenapa bayam yang ditanam Bapak masih pendek-pendek.

“Meji, kok bayamnya masih kecil-kecil ya,, harusnya sudah tinggi.” Kemudian Majida menyambung dengan kalimat yang membuat saya geli.

“Bapak tinggi ya, Ibuk. Ibuk pendek. Bayamnya kaya Ibu?”

Continue reading “Bapak Tinggi Ya, Ibuk Pendek – Math Around Us”